Mobilitas Listrik di Indonesia dan Dunia

Mobilitas Listrik di Indonesia dan Dunia
Ilustrasi (Antara Foto)

INILAH, Jakarta - Penggunaan secara luas kendaraan ramah lingkungan, termasuk mobil listrik, sedang gencar dikampanyekan di sebagian belahan dunia, sebagai misi bersama mengurangi emisi CO2 yang dituduh punya peran besar dalam peningkatan pemanasan global.

Mengutip World Resources Institute, emisi karbondioksida dunia pada 2017 telah mencapai lebih dari 36,2 gigaton, kemudian naik pada 2018 menjadi 37,1 gigaton, dengan Indonesia berada di antara 15 negara penyumbang terbesar.

Menurut estimasi Global Carbon Project (GCP), emisi karbondioksida di Indonesia pada 2017 sebanyak 487 juta ton (MtCO2), naik 4,7 persen dari tahun sebelumnya, sebelum kemudian naik lagi 2 persen pada 2018.

Di DKI Jakarta saja, emisi CO2 setiap tahunnya mencapai 206 juta ton, dengan penyumbang terbesar sektor transportasi yang angkanya mencapai 182,5 juta ton, sedangkan sektor rumah tangga dan industri masing-masing berkontribusi 23,9 juta ton dan 350,3 ribu ton.

Becermin dari data itu, tentu sudah mendesak bagi Indonesia untuk menekan produksi karbondioksida di sektor transportasi, selain melalui bauran energi yang memperbanyak peran energi terbarukan, dan pelestarian hutan.

Membangun dan memperbanyak penggunaan kendaraan ramah lingkungan di Indonesia harus sudah dimulai walaupun ini tidak mudah karena membutuhkan banyak instrumen—yang sejauh ini sangat minim—, baik itu infrastruktur, teknologi, kebijakan atau regulasi berupa insentif, serta inisiatif.

Kita sedikit lega setelah Wakil Presiden Jusuf Kalla memberikan sinyal keseriusan pemerintah dalam membangun mobilitas listrik (e-mobility) meskipun sejauh ini masih belum jelas peta jalannya. JK mengatakan peraturan pemerintah tentang mobil listrik akan diterbitkan tahun ini.

“Segera karena ini disinkronkan dengan beberapa kementerian apakah itu industri, keuangan, perhubungan, dan juga kemampuan industri dalam negeri, tahun ini,” kata Wapres JK saat membuka Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS), Kamis lalu (18/7).

Satu lagi yang membuat banyak pihak lega adalah mulai diperkenalkannya beberapa mobil listrik dari sejumlah pabrikan mobil besar yang hadir di GIIAS.

Meskipun pasar masih bertanya-tanya di mana mereka bisa menemukan stasiun pengisian daya baterai mobil, kehadiran beberapa mobil listrik itu membuat masyarakat menjadi sedikit lebih akrab dengan kendaraan listrik.

Melengkapi Toyota Prius dan Camry Hybrid yang sudah lebih dulu hadir, di GIIAS diperkenalkan sederetan kendaraan ramah lingkungan terbaru, sebut saja BMW i8 Roadster, BMW i3S, Mercedes-Benz E300 e, DFSK Glory E3, Renault Twizy, Daihatsu HYFun, Mitsubishi Outlander PHEV, Toyota C-HR Hybrid, Toyota Camry dan Alphard Hybrid teranyar, dan Hino Dutro Hybrid.

Yang menarik, di antara mobil penumpang ramah lingkungan kelas menengah dan mewah itu hadir Hino Dutro Hybrid, seolah memberi “peringatan” bahwa kendaraan ramah lingkungan dalam sektor transportasi publik dan angkutan barang juga penting, mengingat masih buruknya kontrol emisi gas buang pada sub-sektor ini.

Butuh peran besar pemerintah dan industri untuk mengimplementasikan kendaraan ramah lingkungan pada sektor transportasi publik atau massal, sekalian memberikan contoh baik bagi masyarakat untuk mulai beralih dan punya kesadaran tinggi untuk menggunakan kendaraan pribadi yang lebih ramah lingkungan, dengan didahului kebijakan pengetatan uji emisi tentunya.

Inisiatif dan insentif

Dalam pengembangan mobilitas listrik (e-mobility), inisiatif dan insentif sama-sama pentingnya. Inisiatif tanpa insentif tak akan jalan, demikian juga sebaliknya.

Di Amerika Serikat, yang menyediakan insentif pengurangan pajak antara 2.500-7.500 dolar per kendaraan berdasarkan kapasitas baterai dan bobot mobil, tingkat adopsi kendaraan listrik di pasar domestik pada 2018 mencapai 360.800 unit, naik drastis 81 persen dibanding 2017, menurut pusat data penjualan global kendaraan listrik EV Volume.

Dari angkat tahun lalu itu, 66 persen di antaranya merupakan kendaraan murni listrik (Battery Electric Vehicle/BEV) dan 34 persen Plug-in Hybrid (PHEV). Ini berarti penggunaan kendaraan bertenaga listrik sepenuhnya, naik tajam dari tahun 2017 angkanya baru 53 persen mobil murni listrik dan 47 persen PHEV.

AS sangatlah beruntung memiliki Tesla, grup produsen mobil listrik dan kendaraan luar angkasa punya Elon Musk yang visioner. Dari peningkatan adopsi mobil listrik yang tumbuh 81 persen dibanding 2011-2013, penjualan Tesla Model 3 naik cepat dalam persaingan dengan Chevy Volt dari GM, Toyota Prius Plug-in, dan Nissan LEAF.

Pada kuartal pertama tahun ini Tesla mampu menjual 77.550 unit Model 3, naik 50 persen dari periode sama tahun 2018, dan masing-masing 17.650 unit untuk Model S dan Model X.

Satu pencapaian yang patut bagi Tesla, perusahaan cerdas yang memproduksi baterai mobil sendiri dan menciptakan teknologi pengisian cepat daya baterai kendaraan listrik.

Tesla telah membangun banyak stasiun pengisian daya baterai untuk pelanggannya di tempat-tempat strategis di pasarnya di seluruh dunia, termasuk Cina. Belakangan ini, teknologi pengisian daya baterai listrik Tesla V3 (versi 3) mampu mengisi hingga 1.500 kendaraan dalam sehari.

Eropa, kawasan dengan banyak pabrikan mobil besar, telah membuat banyak inisiatif untuk mendorong penggunaan kendaraan ramah lingkungan. Pemerintah di kawasan ini dibantu asosiasi dan pabrikan membangun infrastruktur dan percontohan mobilitas listrik di sejumlah negara.

Adopsi pasar terhadap kendaraan listrik di Eropa pada 2018 tercatat mencapai 408.000 unit, naik 33 persen dibanding 2017, itu sudah termasuk PHEV dan BEV baik kendaraan penumpang maupun kendaraan komersial.

Untuk meningkatkan sumbangsih industri otomotif terhadap penciptaan udara bersih, Eropa juga memberlakukan aturan emisi baru WLTP (the Worldwide Harmonised Light Vehicle Test) dengan menoleransi hanya emisi di bawah 50gram CO2 per kilometer.

Untuk kawasan Asia Pasifik, semua bisa berkaca dari China, pasar terbesar dunia yang juga sudah mulai diperhitungkan dalam percaturan pasar mobil global, berkat kemajuan pesat pabrikan dalam negerinya, seperti NIO, baik dalam teknologi maupun kualitas produknya.

Cina telah menelurkan kebijakan subsidi mobil listrik untuk mendorong penetrasi Kendaraan Energi Baru (New Energy Vehicle/NEV). Penjualan NEV di Cina naik drastis sejauh ini. Secara volume naik 106 persen pada semester pertama dan 68 persen pada paruh kedua tahun 2018, sedangkan untuk tahun ini 79 persen.

Cina masih menjadi pasar terbesar kendaraan plug-in sejauh ini, dengan penjualan NEV tahun 2018 mencapai 1.160.000 unit, mencakup kendaraan penumpang maupun komersial ringan. Jauh dibanding Eropa yang 410.000 unit dan AS dalam kisaran 360.000 unit.

Banyak analis memperkirakan bahwa pada 2019 penjualan kendaraan energi baru di Cina mencapai 1,8 juta unit (Cars, SUVs, MPVs, dan LCVs) di pasar kendaraan ringan domestik yang mencapai 26,7 juta unit, turun 3 persen dibanding 2018.

Melihat apa yang terjadi di dunia, jelas bahwa pengembangan mobilitas listrik di Indonesia tidak bisa hanya mengandalkan inisiatif segelintir orang atau satu institusi saja.

Ini membutuhkan inisiatif bersama, kolaborasi, antara pemerintah dan para swasta berkemampuan tinggi, yang ditunjang dengan kebijakan dan ekosistem yang baik pula. (Antara)

Loading...