Rohman Gumilar, Melalui Literasi Berani Lanjutkan Mimpi

Rohman Gumilar, Melalui Literasi Berani Lanjutkan Mimpi
Rohman Gumilar (kiri) pendiri Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Bina Kreasi Muda di di Desa Kadakajaya, Tanjungsari, Kabupaten Sumedang. (Rianto Nurdiansyah)
Rohman Gumilar, Melalui Literasi Berani Lanjutkan Mimpi
Rohman Gumilar, Melalui Literasi Berani Lanjutkan Mimpi
Rohman Gumilar, Melalui Literasi Berani Lanjutkan Mimpi

INILAH, Bandung- Matahari kian tinggi dan memancarkan sinarnya di atas petak sawah kala itu. Dengan tangan penuh tanah, seorang bocah sesekali menyeka keringat di dahinya sambil terus menebar benih kol di lahan milik seseorang yang kerap dia panggil bos.

Sejauh mata memandang, dia menangkap iring-iringan anak sebayanya menggunakan seragam putih biru berjalan di pematang sawah. Mendadak siang pun terasa lebih panas karena batinnya digoda rasa iri yang mungil setelah melihat pemandangan itu. 

Rohman Gumilar, nama bocah tersebut. Dia tak pernah tega merajuk orang tuanya untuk melanjutkan sekolah ke SMP. Membantu sang kakek di sawah adalah ritual kesehariannya yang tak dapat ditawar lagi setelah ayah dan ibunya berpisah saat dia duduk di bangku kelas 3 SD. 

Meski masa kecilnya dilalui dengan kegetiran, namun hal itu bukan penghalang baginya untuk mengubah nasib. Bahkan, bukan hanya mengubah nasibnya sendiri, Rohman dewasa sukses membawa perubahan di Desa Kadakajaya, Tanjungsari, Kabupaten Sumedang, tempat dia dibesarkan.

Pengalaman pahitnya mendorong Rohman untuk menularkan semangat literasi kepada warga sekitar, khususnya kepada anak-anak yang memiliki kecenderungan putus sekolah, agar berani menggapai angan-angan tinggi. 

Kerja keras dan jerih payah Rohman untuk mengubah desanya pun akhirnya berbuah apresiasi dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat. Bahkan, Rohman mampu mendulang juara di ajang Een Sukaesih Award (ESA) 2018 lalu. 

Pria kelahiran Sumedang 27 Mei 1977 ini mengenang, bukan sepatu atau baju baru yang dia beli dari upahnya sebagai buruh tani. Dari uang Rp15.000 yang diperolehnya setiap hari, Rohman selalu menyisihkan untuk membeli bermacam-macam jenis buku guna melengkapi koleksi Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Bina Kreasi Muda yang dia dirikan sejak 2010 silam.

"Awalnya saya hanya menaruh 100 koleksi buku di kantor desa, tapi banyak warga sungkan datang karena menganggap yang datang ke kantor desa itu harus orang-orang tertentu. Selain itu, jam layanan juga terbatas," ujar Rohman. 

Rohman pun mengaku sempat mengadu nasib ke Kota Bandung untuk memperbaiki jalan hidupnya. Bahkan, demi mendapatkan pekerjaan yang lebih layak, menjadi kuli bangunan pun sempat dia lakoni.

Di waktu senggang, tak jarang pria yang akrab disapa Gugum ini menyambangi Jalan Cikapundung atau Jalan Dewi Sartika yang sejak lama dikenal sebagai sentra buku di Kota Kembang itu.

"Saya mencari buku-buku bekas biar bisa dapat banyak," katanya.

Seiring waktu koleksi buku Gugum pun semakin bertambah, apalagi dia menerima pemberian buku dari para donatur. Namun, hingga menjelang dua tahun, taman bacaan yang dia dirikan di kantor desa cenderung sepi hingga akhirnya dialihkan ke Posyandu pada 2012.

Setelah dialihkan, ruang baca di Posyandu ternyata tak mampu menampung warga yang hendak membaca koleksi bukunya. Alhasil, tak lama kemudian, Gugum pun menjadikan rumahnya sebagai ruang baca dengan cara menyekat salah satu ruangan berukuran satu setengah meter, meski ruangan itu tetap tak bisa menampung warga yang mulai keranjingan membaca buku.

"Sekarang saya punya Saung Maca yang yang dibangun menggunakan bambu di halaman rumah," katanya. 

Menariknya, setiap warga yang hendak membaca buku di TBM Bina Kreasi Muda diwajibkan membawa sampah daur ulang. Hal itu menjadi syarat bagi warga yang hendak membaca buku-buku koleksi Gugum.

"Sampah tersebut kita daur ulang menjadi berbagai macam kerajinan tangan," katanya.

Gugum tahu persis, tantangan ke depan bukan lagi terbatasnya informasi mengingat kini zaman sudah serba digital. Meski begitu, semakin mudahnya mendapat informasi, kata Gugum  berdampak pada meredupnya budaya literasi seiring penggunaan gawai yang kebablasan. 

Inovasi yang dia lakukan, yaitu menggelar pelatihan kepada warga sekitar, mulai dari pelatihan menulis, kerajinan, bahasa Inggris, hingga sinematografi. Setiap kegiatan tersebut dilaksanakan dengan pendekatan literasi dan dibantu oleh sejumlah relawan.

"Selain di TBM, kita juga jemput bola ke rumah-rumah warga untuk memberikan pelatihan setiap dua minggu sekali, agar orang tua mereka mengetahui materi apa yang kita sedang bahas," terang Gugum.

Lewat literasi juga, kata Gugum, masyarakat mendapatkan banyak inspirasi, agar berani melanjutkan setiap mimpi-mimpinya yang luhur. Terbukti, cukup banyak warga di sekitar TBM yang kini menempuh pendidikan hingga perguruan tinggi yang membuat Gugum pun bahagia.

"Saya tahu persis di Desa Kadakajaya. Dulu saya hapal, awalnya tentara itu cuma ada satu, polisi ada dua. Tapi sekarang, sudah mulai berangsur banyak yang meneruskan pendidikan," katanya.

Untuk pendidikan formal, Gugum sendiri memang hanya mengenyam bangku SD. Namun, usaha dan kerja keras mengalahkan segala keterbatasannya. Tidak ada kata telat dalam kamus milik Gugum. Pada 2014 lalu, Gugum mengikuti pendidikan paket B setara SMP dan di tahun 2017 mengejar paket C atau setara SMA. 

Lewat membaca, Gugum pun mampu memahami berbagai bidang, termasuk mempelajari seluk-beluk sinematografi. Bahkan, beberapa karyanya sempat ditayangkan di stasiun televisi lokal dan menjuarai beberapa perlombaan. 

Gugum kembali menegaskan, keterbatasan bukan hambatan untuk mengejar mimpi. Buktinya, saat mengawali terjun pada bidang sinematografi pun, dia hanya mengandalkan kamera saku. Setelah meraih juara salah satu lomba, Gugum mendapat hadiah handy cam yang kini digunakan untuk pelatihan di TBM.

"Bahkan kita juga sekarang sering mendapat order video syuting dan lain-lain, padahal kita hanya TBM. Salah satu relawan juga saya sertakan lomba menulis dan berhasil dapat juara tiga, dapat beasiswa bisa melanjutkan ke SMA. Sekarang dia sudah di UPI (Universitas Pendidikan Indonesia)," bebernya.

Gugum juga mengakuI, TBM yang digagasnya tak lepas dari keterbatasan karena berdiri di bangunan non-permanen yang hanya mengandalkan bilik sebagai dindingnya. Alhasil, sejumlah koleksi bukunya cepat rusak karena lembab. 

Hanya saja, dia bersyukur mendapatkan apresiasi dari Pemprov Jabar pada EEN Award 2018 lalu dimana Gugum mendapatkan hadiah yang dapat dimanfaatkan untuk memaksimalkan potensi TBM. 

"Alhamdullilah hadiah dari Pemprov itu saya bikin akta notaris untuk TBM, netbook, mesin laminating, printer, dan motor. Soalnya kalau naik ojek itu bisa habis Rp15.000 sampai Rp20.000 per hari. Jadi bisa hemat," pungkasnya.

Semangat literasi yang Gugum perjuangkan rupanya sejalan dengan Pemprov Jawa Barat yang juga memberikan perhatian khusus pada minat baca masyarakat. Salah satu buktinya yaitu dengan diluncurkannya Perpustakaan Jalanan Kolecer (Kotak Literasi Cerdas) dan Candil (Maca Dina Digital Library) di Kota Bogor, Sabtu 15 Desember 2018 lalu.

Diketahui, program tersebut merupakan bagian dari program kerja 100 hari Gubernur Jawa Barat.

"Minat baca orang Indonesia cenderung rendah, orang kita tidak suka membaca dan tidak suka menulis. Oleh karena itu, kita akan membuat hal itu berubah melalui sebuah gerakan literasi dimana semua pihak harus berpartisipasi," ujar Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil saat peluncuran Kolecer dan Candil.

Emil -sapaan Ridwan Kami- berharap, Kolecer dan Candil dapat meningkatkan minat baca generasi milenial yang terikat oleh gawai atau teknologi. Mengingat, sejumlah informasi secara masif dapat ditemukan di dunia maya. Hanya saja, lanjut dia, sulit diterka manfaat dan mudaratnya.

"Generasi milenial sekarang hasil surveinya lebih senang menghabiskan waktunya lewat handphone, sehingga ada kekhawatiran yang dibaca adalah hal-hal yang tidak bermanfaat karena seliweran juga informasi-informasi yang negatif," jelas Emil.

Khusus kolecer merupakan bantuan dana Corporate Social Responsibility (CSR) dari Bank bjb. Untuk tahap awal, Kolecer akan disebar di 27 kabupaten/kota se-Jabar dan 600 titik sebagai target 5 (lima) tahun ke depan. Sedangkan pembuatan aplikasi perpustakaan digital Candil mulai digunakan pada bulan Januari 2019 lalu. 

"Jadikan perpustakaan itu tempat bermain warga, tempat berkumpul komunitas warga tapi dikelilingi oleh buku-buku. Dan saya imbau kepada kepala daerah tolong jadikan masyarakatnya pintar di segala level. Terjemahkan ini dalam sebuah kebijakan," katanya. 

Seperti diketahui, Indonesia menempati ranking 60 dari 61 negara dalam hal literasi dan membaca. Namun, berdasarkan hasil survei World Culture Index Score 2018, kegemaran membaca masyarakat Indonesia meningkat signifikan, dengan menempati urutan ke-17 dari 30 negara.

Dalam hal membaca, rata-rata orang Indonesia menghabisakan waktu baca sebanyak 6 jam per minggu, mengalahkan Argentina, Turki, Spanyol, Kanada, Jerman, Amerika Serikat, italia, Mexico, Inggris, Brazil, Taiwan, Jepang dengan masing-masing 3 jam per minggu.

"Mari jangan lagi patah semangat dengan ranking 60 dari 61 negara yang disurvei. Oleh karena itu, tugas sekarang cari solusi. Pertama, kita buat budaya membaca. Saya titip kepada kepala daerah wajibkan di Paud, TK, SD, SMA, SMA membaca dulu sebelum masuk kelas," kata Emil pada  kesempatan berbeda. 

Sebagai bentuk keseriusan Emil juga melakukan penandatangan deklarasi literasi untuk Jawa Barat Juara Lahir dan Batin dalam Festival Literasi 2019 di Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Sabtu (20/4/2019) lalu.

Adapun isi deklarasi tersebut: Pertama, yaitu siap mendukung gerakan literasi untuk Jawa Barat Juara Lahir Batin, guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat Jabar. Kedua, menjadikan perpustakaan sebagai wahana belajar masyarakat sepanjang hayat dengan prinsip terbuka, menyenangkan, menjunjung kebermanfaatan tinggi bagi masyarakat Jabar, dalam meningkatkan kualitas hidupnya. 

Ketiga, sesuai dengan kewenangan masing-masing maka lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat mendukung gerakan literasi dalam mewujudkan masyarakat literat yang berkarakter dan adaptif terhadap perkembangan zaman. Keempat, membangun kolaborasi untuk melakukan inovasi kreasi literasi dalam mewujudkan masyarakat cerdas.

"Kami akan memulai tradisi para kepala dinas sebulan sekali saya wajibkan baca buku. Nanti di akhir bulan diacak siapa yang membuat resensi dan wajib mempresentasikan," kata Emil. (Rianto Nurdiansyah)

 

Loading...