Doa dan Tawakal Lebih Manfaat dari Obat, Asalkan..

Doa dan Tawakal Lebih Manfaat dari Obat, Asalkan..
Ilustrasi/Net

MENGENAI hadits tentang wanita yang terkena penyakit ayan,

Dari Atho bin Abi Robaah, ia berkata bahwa Ibnu Abbas berkata padanya, "Maukah kutunjukkan wanita yang termasuk penduduk surga?" Atho menjawab, "Iya mau." Ibnu Abbas berkata, "Wanita yang berkulit hitam ini, ia pernah mendatangi Nabi shallallahu alaihi wa sallam, lantas ia pun berkata, "Aku menderita penyakit ayan dan auratku sering terbuka karenanya. Berdoalah pada Allah untukku."

Nabi shallallahu alaihi wa sallam pun bersabda, "Jika mau sabar, bagimu surga. Jika engkau mau, aku akan berdoa pada Allah supaya menyembuhkanmu." Wanita itu pun berkata, "Aku memilih bersabar." Lalu ia berkata pula, "Auratku biasa tersingkap (kala aku terkena ayan). Berdoalah pada Allah supaya auratku tidak terbuka." Nabi shallallahu alaihi wa sallam pun berdoa pada Allah untuk wanita tersebut. (HR. Bukhari no. 5652 dan Muslim no. 2576).

Hadits di atas hanyalah menunjukkan bahwa boleh meninggalkan berobat dalam kondisi seperti yang wanita itu alami yaitu saat ia masih kuat menahan penyakitnya. (Lihat Fatwa Syaikh Sholeh Al Munajjid no. 81973)

Al Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan, "Hadits tersebut menjelaskan keutamaan orang yang bersabar ketika tertimpa penyakit ayan. Juga terkandung pelajaran bahwa orang yang bersabar terhadap cobaan dunia, maka itu memudahkannya mendapatkan surga.

Orang yang menahan rasa sakit yang berat lebih utama daripada orang yang mengambil rukhsoh (keringanan), dengan catatan ini bagi yang mampu menahan. Hadits ini juga menunjukkan boleh memilih tidak berobat. Juga hadits ini menunjukkan bahwa berobat dari setiap penyakit dengan doa dan menyandarkan diri pada Allah lebih manfaat daripada mengonsumsi berbagai macam obat. Pengaruh doa dan tawakkal pada badan lebih besar daripada pengaruh berbagai macam obat pada badan. Namun doa tersebut bisa manfaat jika: (1) pasien yang diobati punya niat yang benar, (2) orang yang memberi obat, hatinya bertakwa dan benar-benar bertawakkal pada Allah." Wallahu alam. (Fathul Bari, 10: 115). [Inilah.com]