Sikap Kami: Menantang Prabowo-Mega

Sikap Kami: Menantang Prabowo-Mega

SUDAHLAH, kita sisihkan hal-hal pinggiran dari pertemuan Prabowo Subianto dan Megawati Soekarnoputri. Kita harus kembali pada semangat awal: menjaga keutuhan dan persatuan negeri ini.

Bahwa misalnya ada diplomasi-diplomasi soal urusan lain, mulai dari posisi Ketua MPR, jabatan menteri, atau bahkan Pilkada 2020, kita anggap wajar saja. Bukankah yang bertemu adalah dua tokoh yang akan tetap memainkan peran dalam politik nasional? Keduanya pemimpin parpol besar lagi.

Maka, bagi kita, keberhasilan pertemuan itu bukanlah pada siapa yang jadi Ketua MPR, siapa yang dapat jabatan menteri, atau seperti apa koalisi Pilkada 2020. Buat kita, juga pada pertemuan sebelumnya antara Prabowo dan Joko Widodo, ukuran keberhasilannya adalah mengenyahkan kampret dan cebong dari negeri ini.

Dalam pertemuan Jokowi-Prabowo, keduanya sepakat menyatakan tak ada lagi cebong dan kampret, tak ada lagi nomor 01 atau 02. Yang terakhir, soal 01-02, mungkin mulai terasa datar. Tapi, soal cebong dan kampret? Masih sangat tinggi.

Simak saja media sosial, atau media-media interaktif terbuka lainnya, cebong kampret belum berkurang. Yang taklik buta terhadap “junjungannya”, masih sangat banyak.

Sesungguhnya, gaduh politik kita selama masa kontestasi, tak hanya soal politisi-politisi yang berebut kuasa. Gaduh yang lebih luar biasa justru muncul dari cebong dan kampret ini. Dia seperti binatang yang sulit dimatikan karena ada yang taklik buta, atau ada pula yang membayarnya.

Maka, dalam kesempatan ini, kita ingin menguji seberapa hebat Jokowi, Prabowo, atau Megawati. Sejauh apa kemampuan mereka mengikis cebong dan kampret ini. Sebab, cebong-kampret inilah yang jadi penyakit paling parah alam demokrasi kita hari-hari ini. Dia bukan sekadar gejala sosial, melainkan ada dugaan mesin yang menggerakkannya.

Kalau mereka gagal, maka bolehlah kita sampaikan hanya sebegitu kapasitas kepemimpinannya. Tak didengar oleh cebong-kampret, tak dituruti pendukung-pendukung mereka yang bisa memecah belah bangsa.

Kepada tokoh-tokoh itu, perlu kita ingatkan, jika cebong kampret masih hidup, jangan harap negeri ini akan bebas dari hiruk-pikuk. Padahal, lima tahun ke depan, Jokowi sebagai presiden untuk periode kedua, butuh ketenangan untuk membangun negeri. (*)