2020, KAI Operasikan Jalur KA Cibatu-Garut

2020, KAI Operasikan Jalur KA Cibatu-Garut
Foto-foto: Doni Ramdhani
2020, KAI Operasikan Jalur KA Cibatu-Garut
2020, KAI Operasikan Jalur KA Cibatu-Garut

INILAH, Bandung - PT Kereta Api Indonesia (KAI) terus merampungkan reaktivasi sejumlah jalur KA yang nonaktif. Di Daerah Operasi (Daop) 2 Bandung, dari rencana empat reaktivasi itu tampaknya jalur KA Cibatu-Garut yang akan terealisasi dalam waktu dekat.

EVP Daop 2 Bandung Saridal mengatakan, progres reaktivasi jalur tersebut saat ini masih dalam tahap penertiban bangunan. Sekitar enam ratusan bangunan yang berada di atas rel pun kini dibongkar menggunakan alat berat.

“Untuk proses penertiban (jalur Cibatu-Garut) itu selesai. Sekarang, sedang dilakukan clearing dan pembersihan berangkal. Mudah-mudahan seminggu ini bisa rata dan bersih,” kata Saridal di Garut, Kamis (1/8/2019).

Menurutnya, target pembenahan jalur itu akan rampung pada akhir 2019 ini. Diharapkan, pada akhir Desember 2019 ini bisa dilakukan tahapan uji coba. Kemudian, pada Januari-Februari 2020 mendatang jalur tersebut beroperasi penuh.

“Kita inginnya Januari atau Februari 2020 itu jalur Cibatu-Garut sudah beroperasi dengan semua sistem perkeretaapian,” tegasnya.

Selama enam bulan ke depan, usai pembersihan lahan itu langsung dilakukan pembenahan. Rel sepanjang 19,75 km yang membentang dari Cibatu ke Garut itu akan diganti seluruhnya. 

Persiapan berupa penyediaan kebutuhan bahan baja rel diakuinya siap. Selain itu, material bantalan rel pun siap dipasang. Di beberapa titik, pembenahan rel itu sudah dimulai.

“Untuk rel itu, semuanya kita ganti dengan yang kondisi yang bagus. Jembatan yang dilintasi juga akan diperkuat. Penggantian rel itu karena lokomotif dan kereta lebih lebar dari yang sebelumnya,” ucapnya.

Disinggung mengenai kendala reaktivasi jalur tersebut, Saridal menjelaskan lebih detil. Selain dikarenakan tahap penertiban aset yang membutuhkan dana yang relatif tidak sedikit, rencana reaktivasi itu pun terkendala masa Pemilu dan Pilpres 2019. Waktu pembenahan jalur itu pun terpotong masa Puasa dan Idul Fitri yang total memotong waktu hingga 85 hari kerja.

Khusus terkait penertiban aset, Saridal mengaku turun langsung menyelesaikan hal itu di lapangan. Dengan pendekatan persuasif, tahap penertiban dan pembebasan lahan di lapangan bisa berjalan lancar. Meski menghadapi beberapa persoalan, namun dengan pendekatan musyawarah penertiban dengan masyarakat Garut rampung. 

“Sebenarnya, jalur ini dibangun pada 1889. Pengoperasian jalur Cibatu-Garut dihentikan pada 1983 tepatnya pascaerupsi Gunung Galunggung. Erupsi gunung di Tasikmalaya itu mempengaruhi sejumlah prasarana kereta api dan banyak lokomotif yang rusak,” tuturnya.

Saridal menambahkan, mayoritas warga Garut itu menantikan adanya reaktivasi jalur KA tersebut. Tak hanya itu, mereka pun berharap dan menantikan proyek kereta cepat bisa ramput secepatnya. Nantinya, ada tiga pemberangkatan di jalur tersebut. Selain Cibatu, jalur itu pun akan dilewati kereta dari Garut, Bandung, dan Purwakarta.

Harapan segera terealisasikannya jalur KA Cibatu-Garut itu pun diungkapkan warga Kota Dodol. Dadang Hermawan (47), seorang pedagang di Pasar Mawar, Desa Pakuwon, Kecamatan Garut Kota yang dilintasi jalur tersebut mengharapkan reaktivasi itu segera dioperasikan.

“Kalau sudah ada kereta kan ongkos bisa lebih murah. Karena sekarang untuk jalur Cibatu-Garut itu kalau pakai angkot bisa Rp10 ribu per sekali jalan. Kalau pakai kereta kan bisa lebih murah, cuma Rp3.000 saja,” sebut Dadang yang diamini Enah (50) yang berdagang minuman kopi instan di pinggir jalan.