BNPT: Mahasiswa Harus Adaptif dengan Teknologi

BNPT: Mahasiswa Harus Adaptif dengan Teknologi
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Pol Suhardi Alius mengatakan mahasiswa harus menyesuaikan diri dari status siswa menjadi mahasiswa yang diharapkan kelak menjadi pemimpin-pemimpin bangsa khususnya di bidang teknologi di era sekarang.

INILAH, Bandung-Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Pol Suhardi Alius mengatakan mahasiswa harus menyesuaikan diri dari status siswa menjadi mahasiswa yang diharapkan kelak menjadi pemimpin-pemimpin bangsa khususnya di bidang teknologi di era sekarang.

"Soft power seperti pendekatan kemanusiaan, pendidikan kebangsaan, membangunkan rasa cinta Tanah Air sangat penting dalam pencegahan radikalisme dan terorisme," kata Suhardi di hadapan ribuan mahasiswa baru saat pembukaan orientasi pendidikan Universitas Budi Luhur (UBL) di Jakarta, Senin (2/9/2019).

Dalam orientasi pendidikan mahasiswa yang diberikan pengarahan bagaimana untuk menyesuaikan diri dari status siswa menjadi mahasiswa yang diharapkan kelak menjadi pemimpin-pemimpin bangsa, dan harus menjaga NKRI.

Dalam melaksanakan orientasi pendidikan (ordik) bagi calon mahasiswa baru pada 2-4 September 2019 dengan tema yang diusung pada ordik tahun 2019 ini adalah 'Berbudi Luhur untuk Indonesia Bersatu dan Unggul'.

Dengan tema tersebut, saat pembukaan orientasi pendidikan dinyanyikan lagu Papua Yamko Rambe oleh Paduan Suara Mahasiswa UBL, Tari Ondel-Ondel Betawi oleh Komunitas Tari Mahasiswa UBL, Baju Bhineka Tunggal Ika oleh para senior, dan pelepasan burung merpati sebagai lambang perdamaian.

Sebagai lembaga pendidikan Information Technology (IT) pertama di Indonesia, Universitas Budi Luhur menguatkan posisi pionir ini dengan inovasi 'ordik berbasis IT'.

Penggunaaan IT antara lain dengan: kehadiran mahasiswa dilakukan melalui aplikasi 'Ngampooz'.

Materi orientasi pendidikan tidak diberikan melalui lembaran kertas cetak, tetapi mahasiswa diminta mengunduh melalui smartphone masing-masing.

Pengenalan kampus seperti: Perpustakaan, Direktorat Administrasi Akademik, Direktorat Kemahasiswaan, Sekretariat Fakultas, dll, dilakukan dengan kunjungan fisik dan pembacaan QR Codeyang ada di setiap lokasi, yang berisi informasi detail tentang bagian kampus tersebut.

Lomba yel-yel kelompok mahasiswa digantikan dengan pembuatan vlog yang diunggah di media sosial dan pemenang ditentukan berdasarkan banyaknya like.

Dengan demikian mahasiswa diharapkan terbiasa menggunakan smartphone mereka untuk hal-hal yang positif dan produktif.

Plt Rektor UBL Dr. Wendi Usino, M.Sc. menyampaikan bahwa inilah salah satu contoh inovasi teknologi UBL yang diperkenalkan kepada calon mahasiswa baru.

Pada hari kedua ordik UBL akan berisi antara lain pengenalan budaya Indonesia dan kondisi sosial masyarakat Indonesia. Pengenalan Budaya dilakukan dengan senam maumere dan poco-poco.

Sedangkan pengenalan kondisi sosial masyarakat Indonesia dilaksanakan dengan cara bakti sosialdi perkampungan sekitar kampus dan pembersihan sungai yang ada di sekitar kampus.

Dr. Arief Wibowo, Direktur Kemahasiswaan yang juga Ketua Ordik UBL 2019, menjelaskan bahwa selama minimal empat tahun ke depan, mahasiswa baru UBL akan banyak berbaur dengan warga sekitar kampus.

"Mahasiswa baru harus mengenal dan berbaur dengan warga di sekitar kampus sejak awal kuliah. Kegiatan ini bertujuan mahasiswa memiliki kepekaan terhadap lingkungan, baik itu lingkungan sosial maupun lingkungan hidup, dan menerapkan nilai-nilai kebudiluhuran," ujar Arief.  (inilah.com)

Loading...