Akibat Impor Baju Bekas, Pengusaha Tekstil Rugi Rp15 Miliar

Akibat Impor Baju Bekas, Pengusaha Tekstil Rugi Rp15 Miliar
Foto: INILAH/Syamsuddin Nasoetion

INILAH, Bandung – Kadisperindag Jawa Barat Muhammad Arifin menyebutkan, sebelum dilakukan penindakan, telah ada aduan dari para pedagang atas peredaran pakaian bekas impor di kawasan Gedebage, Kota Bandung.

"Sebenarnya seminggu kebelakang ini udah ada surat pengaduan dari aliansi pedagang disini yang merasa banyak pakaian impor bekas beredar disini," kata Arifin, Kamis (5/9/2019).

Ia mengaku, telah melakukan pengawasan sebelumnya di kawasan Gedebade, terkait peredaran pakaian bekas impor.

"Teman-teman kota bandung juga sudah melakukan pengawasan kemudian kami eksekusinya hari ini," ujar Arifin.

Sekretaris Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jawa Barat Rizal Tanzil mengklaim, pengusaha tekstil di Jawa Barat mengalami kerugian hingga mencapai 15 miliar. Atas pengiriman ilegal pakaian bekas impor sebanyak 551 bal tersebut.

"Pasti ini merugikan kita karena menggerus pasar domesik kita, kalau pak dirjen memprediksi ini 5 miilar kalau kita sekitar 15 miliar, artinya apsar kita tergerus 15 miliar untuk pakaian jadi, ini hanya di satu titik ini (Bandung)," ucap Rizal di lokasi Sidak.

Oleh karena itu, API Jawa Barat mengapresiasi penindakan atas pakaian impor bekas ilegal tersebut. Pasalnya, sidak dan penyitaan yang dilakukan Kementrian Perdagangan melalui Direktorat Jenderal Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga (PKTN).

"Sidak seperti ini sangat penting untuk industri tekstil kita, karena konsumen kita ini cenderungke harga, padahal kalau kita lihat barangnya sudah tidak layak dipakai, ini sampah," ujar Rizal.

Berbeda dengan Rizal, pemilik 551 bal pakaian bekas impor, Amir (45) menampik nilai barang tersebut hingga miliaran rupiah. Menurutnya, nominal harga pakaian bekas impor itu jauh dari estimasi nominal yang ditaksir oleh Kemendag.

"Perlu kita konfirmasi, sampai miliaran itu salah lah, pakaian bekas lima miliar, mana ada kita uangnya," ungkap Amir.

Amir menyebutkan, pihaknya membeli pakaian bekas impor dengan harga bervariatif per bal nya. Tergantung pada merek yang terdapat dalam setiap bal nya.

"Per bal aja, ada yang dua juta, ada yang 3 juta, 1,5 juta. Ada kategorinya, ada mereknya masing-masing," tutur Amir.

Saat disinggung terkait pengetahuannya akan aturan atau larangan impor barang bekas, Amir menambahkan, dirinya sebenarnya mengetahui akan larangan tersebut. Kendati demikian, Amir beralasan pihaknya tidak mungkin membeli pakaian bekas impor itu jika tidak ada pangsa pasarnya.

Pasalnya, menurut Amir, di kawasan Gedebade sendiri sudah sejak lama memiliki pasar pakaian bekas impor yang kerap disebut pasar cimol Gedebade. Bahkan, para pedagang menjajakan barang dagangannya itu di kios yang dikelola langsung oleh Pemerintah Kota Bandung.

"Tahu, tapi itu tadi, kalau tidak ada pembelinya ya ngapain kita belanja. Ya kita pedagangnya ada disamping, kan disiapkan sama pemerintah, pedagang itu kan kiosnya kredit ke pemerintah," pungkas Amir. (Ridwan Abdul Malik)

Loading...