Januari-November, Jabar Inflasi 2,97%

Januari-November, Jabar Inflasi 2,97%
INILAH, Bandung – Sejak Januari hingga November 2018 ini, Badan Pusat Statistik (BPS) Jabar merilis laju inflasi di Jabar tercatat sebesar 2,97%.
 
Kepala BPS Jabar Dody Herlando mengatakan, khusus pada November lalu sumbangan inflasi sebesar 0,28%. Pada akhir 2018 ini, dia menyebutkan pihaknya belum bisa memprediksi besaran laju inflasinya. Meski demikian, dia menegaskan karena faktor musiman pada Desember itu trennya cenderung inflasi.
 
"Biasanya, di Desember itu terjadi inflasi bukan deflasi. Ini dikarenakan pada akhir tahun itu ada beberapa kenaikan permintaan seperti  transportasi, konsumsi, dan lainnya. Tapi, saya tidak mempresiksikan angkanya," kata Dody, Senin (3/12/2018).
 
Menurutnya, sektor transportasi akan mengalami kenaikan permintaan. Sebab, banyak masyarakat yang akan bepergian. Terlebih, pada Desember itu ada momen masa liburan sekolah, serta perayaan Natal dan Tahun Baru.
 
Seiring permintaan konsumsi yang meningkat itu diperkirakan akan mendorong kenaikan sejumlah harga. "Selain itu, komoditas yang perlu diwaspadai di akhir tahun itu yakni beras. Karena, walaupun yang lain stabil, tapi kalau beras naik itu bisa berpengaruh signifikan terhadap yang lain," ujarnya.
 
Untuk itu, dia mengharapkan terkait beras itu Bulog Jabar bisa memastikan pasokan beras aman. Adanya kepastian itu diharapkan tidak ada spekulan yang memainkan harga beras di tingkat pasar. Jalur distribusi pun diharapkan tidak tersendat.
 
Pada November ini penyumbang inflasi terbesar di Jabar yakni Kota Bogor sebesar 0,39%. Kemudian disusul Kota Bandung (0,36%), Sukabumi (0,32%), Kota Cirebon (0,37%), Kota Bekasi (0,21%), Kota Depok (0,20%), dan Kota Tasikmalaya (0,26%).
Sedangkan, tujuh kelompok yang menyumbang inflasi terbesar yakni bahan makanan 0,21%; makanya jadi, minuman, rokok, 0,22%; perumahan, air, gas, BBM 0,41%; sandang 0,17%; kesehatan 0,26%, pendidikan, rekreasi, olahraga 0,01%; serta transportasi, komunikasi, dan keuangan 0,41%.