Doa dan Harapan di Kaki Tangkuban Parahu

Doa dan Harapan di Kaki Tangkuban Parahu
Ratusan warga dan pedagang Cikole menggelar doa bersama atau istighosah tepat di pintu masuk kawasan wisata Tangkuban Parahu, Sabtu (7/9/2019). (Ridwan ABdul Malik

INILAH, Bandung - Genap empat puluh hari Taman Wisata Alam (TWA) Tangkuban Parahu ditutup, ratusan warga dan pedagang Cikole menggelar doa bersama atau istighosah tepat di pintu masuk kawasan wisata populer Kota Bandung itu. Rencananya, istighosah berlangsung selama tujuh hari berturut-turut.

Berdasarkan pantauan, tampak ratusan warga dan pedagang itu berbondong-bondong memadati pintu masuk kawasan TWA Tangkuban Parahu. Mereka khusyuk berdoa dan salat berjamaah kepada Tuhan atas kondisi TWA Tangkuban Parahu.

"Kami tujuh hari kedepan berturut-turut berdoa, istighosah," ucap Koordinator Pedagang TWA Tangkuban Parahu, Ishakjeri di lokasi istighosah, TWA Gunung Tangkuban Parahu, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Sabtu (7/9/2019).

Ishak mengungkapkan, Salat Hajar dan Istighosah ini merupakan cara warga untuk meminta keridhoan Tuhan agar kawah Gunung tangkuban Parahu bisa kembali normal. Sehingga kawasan ini dapat kembali digunakan untuk berwisata dan berdagang.

"Kita berharap semua teman-teman pedagang, marilah kita berdoa bersama agar Tangkuban Parahu normal kembali, dan kita bisa beraktivitas kembali," ujar Ishak yang juga salah satu Ketua RW di Cikole Lembang.

Ditemui ditempat yang sama, Pengelola taman wisata (TWA) Gunung Tangkuban Parahu, Ruslan, mengatakan, kegiatan ini memang yang kesekian kalinya diselenggarakan warga sekitar.

"Dengan Salat berjamaah ini diharap kondisi kawah Gunung Tangkuban parahu dapat normal seperti dulu. Sebab dengan kondisi sekarang banyak warga khususnya para pedagang yang tidak bisa mendapatkan pemasukan keseharian," pungkasnya.

Perlu diketahui, Pasca erupsi, Gunung Tangkuban Parahu ditutup pada Jumat (2/8/2019) hingga hari ini. (Ridwan Abdul Malik)

Loading...