Sikap Kami: Gelapnya Penumpang Gelap

Sikap Kami: Gelapnya Penumpang Gelap

SETELAH Pemilihan Presiden tuntas, semestinya partai-partai politik lebih banyak bermain di hal-hal yang produktif.  Tetapi, faktanya tak demikian. Saling dorong, saling menjorokan, masih saja terjadi.

Salah satu yang sedang ramai jadi pembicaraan adalah soal ‘penumpang gelap’ di kubu Calon Presiden Prabowo Subianto. Ironis memang karena pernyataan adanya ‘penumpang gelap’ itu justru disampaikan sejumlah petinggi partai politik Gerindra, partai besutan dan pimpinan Prabowo.

Beberapa pertanyaan menyeruak mengiringi hal itu. Jika betul ada ‘penumpang gelap’ di kubu tersebut, bayangkanlah betapa rentannya kubu Prabowo disusupi. Padahal, kubu tersebut juga berisikan orang-orang dengan tingkat keintelan yang cukup tinggi. Bagaimana mungkin mereka bisa kecolongan?

Kedua, pernyataan tersebut memicu kontroversi karena Gerindra seolah-olah menjadikannya sebagai abu-abu. Sampai saat ini, orang-orang dibiarkan bertanya-tanya, siapa ‘penumpang gelap’ itu. Atau, jangan-jangan, sebagian orang lingkaran dalam Prabowo pun memiliki pertanyaan serupa: siapa penumpang gelap tersebut?

Pendukung Prabowo di Pilpres lalu sudah nyata-nyata jelas. Sekelompok partai politik. Selain Gerindra, ada pula PKS, PAN, Partai Demokrat. Lalu, ada pula kelompok nonparpol seperti sebagian besar alumni PA 212, kalangan emak-emak, dan sejumlah tokoh agama.

Seorang petinggi parpol Gerindra menyebutkan ‘penumpang gelap’ itu bukan tokoh agama. Sepertinya masuk akal. Jika pun tokoh agama yang menunggangi Prabowo, bukankah hal sebaliknya mungkin juga terjadi?

Adakah partai-partai anggota koalisi? Rasa-rasanya, dalam upaya memajukan Prabowo, partai koalisi itu pun melakukan pengorbanan yang tak sedikit. Salah satunya, paket Prabowo-Sandiaga Uno adalah murni paket Gerindra, meski Sandi kemudian mengundurkan diri.

Jadi siapa? Kita tidak dalam posisi berkepentingan apa-apa soal siapa ‘penumpang gelap’ itu. Tapi, jelas kita patut prihatin, isu-isu seperti ini muncul sebagai hal yang kontraproduktif di tengah suhu politik yang mulai turun.

Tak kalah prihatinnya kita adalah karena yang dilontarkan Gerindra tidak menunjuk langsung hidung yang dimaksud. Akibatnya, publik kembali main tebak-tebakan. Dalam main tebak-tebakan, sudah pasti kebisingan yang terjadi. Sebab, setiap kepala, selalu yakin dengan isi kepalanya sendiri dan tak peduli dengan isi kepala orang lain. Apalagi, jika pemilik isi kepala itu juga memiliki suara yang kencang dan cenderung nyinyir.

Jadi, sebaiknya Gerindra buka-bukaan saja, siapa penumpang gelap itu. Biar jelas. Terang-benderang dan tak gelap lagi. (*)