Dorong Pasar Modal Syariah

Dorong Pasar Modal Syariah
Foto: Syamsuddin Nasoetion

INILAH, Bandung - Sejauh ini, literasi kesadaran tentang investasi di pasar modal syariah masih relatif rendah. Jumlah investor yang aktif bertransaksi pun angkanya kalah jauh dengan pasar modal konvensional.

Berdasarkan survei, literasi pasar modal syariah hanya 0,02% dengan inklusi hanya sebesar 0,01%. Pangsa pasar modal syariah hanya mencapai 6,05% jika dibandingkan dengan total investor saham nasional. Hal ini bertolak belakang dengan potensi Indonesia sebagai negara penduduk muslim terbesar di dunia. 

Hal itu pun terjadi di Jabar. Padahal, Jabar merupakan provinsi dengan penduduk muslim terbesar di Indonesia dengan porsi 17,56% dari total penduduk nasional atau 20,15% dari total penduduk muslim nasional.

Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kantor Regional 2 Jabar Triana Gunawan mengatakan, sebagai negara dengan populasi umat muslim terbesar di dunia perkembangan pasar modal syariah di Indonesia relatif lamban. Produk investasi syariah pun tidak otomatis dipilih sebagai pilihan utama investor. 

“Hal itu juga terjadi pada industri perbankan syariah yang market share-nya hanya sebesar 5,94% jika dibandingkan perbankan syariah dan IKNB (Industri Keuangan Non Bank) syariah yang hanya 4,30% dibandingkan IKNB konvensional,” kata Triana saat Sosialisasi Pasar Modal Syariah ‘Goes To Office’ di Gedung Sate, Selasa (10/9/2019).

Menurutnya, pendalaman pasar modal syariah Indonesia dilaksanakan sejak 1997. Saat itu diterbitkan produk reksa dana syariah pertama namun pengembangan sektor ini secara masif baru dimulai pada 2011. Hal itu terlihat dari perkembangan jumlah investor pasar modal syariah meningkat signifikan dari 531 investor pada 2012 melonjak lebih dari 57.314 investor per Agustus 2019.

Per Agustus 2019, proporsi saham syariah yang listing di Bursa Efek Indonesia (BEI) mencapai 58,64% dengan nilai kapitalisasi pasar mencapai 53,16% jika dibandingkan dengan saham nonsyariah. Untuk produk pasar modal syariah lainnya masih memiliki market share yang kecil jika dibandingkan dengan produk konvensionalnya.

“Seperti Sukuk Korporasi yang hanya memiliki 6,75% market share dengan total 144 seri Sukuk Korporasi, Reksa Dana Syariah 9,35% dengan total produk yang hanya 12,08% dari konvensionalnya, dan Sukuk Negara yang memiliki market share hanya 17,91% dibandingkan konvensionalnya,” ujarnya.

Triana menuturkan, indeks saham syariah juga turut mencatatkan pertumbuhan yang positif selama lima tahun belakangan. Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) mencatatkan pertumbuhan 14,36% dan Jakarta Islamic Index (JII) untuk 30 saham syariah paling likuid mencatatkan pertumbuhan 1,67%, meskipun pertumbuhan dimaksud masih lebih rendah dibandingkan pertumbuhan indeks konvensional IHSG sebesar 21,07% pada periode yang sama. 

Saat ini, terdapat 15 perusahaan sekuritas yang menyediakan sharia online trading system (SOTS) bagi investor syariah, 57 manajer investasi, 15 bank kustodian, 3 bank yyariah untuk pengadministrasian rekening dana nasabah, 108 ahli syariah pasar modal. 

“Dari segi bisnis proses, pasar modal syariah Indonesia telah menjalankan prinsip syariah secara end to end yang berarti seluruh proses investasi yang dimulai dari pembukaan rekening efek investor, rekening dana nasabah, fasilitas transaksi, instrumen investasi, sampai dengan pelaksanaan transaksi di pasar modal telah memenuhi prinsip-prinsip syariah. Bahkan, untuk pelaksanaan transaksi di BEI telah memperoleh fatwa syariah dari DSN-MUI, sehingga tidak ada alasan lagi bagi masyarakat khususnya umat muslim untuk takut berinvestasi di pasar modal syariah,” jelasnya.

Dia mengaku, saat ini emiten-emiten yang listing di bursa juga turut bersaing untuk mendapatkan status saham syariah bahkan sejak dinyatakan efektif dan listing di bursa. Ini dilakukan karena akan memperluas basis investor bagi kepemilikan saham mereka.

Berdasarkan hal itu, OJK saat ini sedang mempersiapkan roadmap baru bagi pengembangan pasar syariah periode 2020-2024 dengan fokus utama pada peningkatan produk dan investor pasar modal syariah. OJK juga akan melakukan relaksasi peraturan serta mempertimbangkan adanya alternatif insentif yang dapat ditawarkan untuk pasar modal syariah.

Loading...