Siswa SMK Harus Ubah Minat Magang di Jepang, Loh?

Siswa SMK Harus Ubah Minat Magang di Jepang, Loh?
Foto: INILAH/Dery Fitriadi Ginanjar

INILAH, Bandung – Selama ini konsep magang bagi siswa sekolah kejuruan yang digembar-gemborkan banyak pihak berujung pada masalah baru, yaitu pengangguran. Hal itu terjadi karena usai melaksanakan program magang, siswa tersebut kembali tanpa memiliki kompetensi dan telah mendekati usia non produktif.

CEO Sentra Global Edukasi (SGE) Indoneisia Rudi Subiyanto mengatakan, konsep magang bagi para siswa sekolah kejuruan asal Jabar ke luar negeri, khususnya Jepang, harus mulai ditinggalkan. Magang malah menjadi bumerang bagi pemerintah berupa pengangguran.

Penumpukan pengangguran terjadi para mantan peserta magang harus kembali mencari kerja di Tanah Air tanpa sertifikat atau peningkatan pendidikan, sedangkan usia produktif nyaris terlewati dan gaji di perusahaan Indonesia lebih rendah dibandingkan di negara tempat magang.

"Selama ini masyarakat banyak yang bangga kalau anaknya magang. Padahal itu jadi bumerang. Konsep yang benar itu menyekolahkan para siswa ke Jepang selama tiga tahun, sambil kerja paruh waktu, lalu kerja selama tiga tahun.," kata Rudy dalam Seminar Pendidikan Perawat Lansia Bersertifikat Jepang di Kantor Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, Selasa (10/9/2019).

Rudi menjelaskan, SGE bersama Dinas Pendidikan Jabar telah menyekolahkan dan mempekerjakan 105 lulusan SMA dan SMK asal Jabar selama lima periode. Mereka bekerja di bidang perhotelan, otomotif, animasi, dan bisnis manajemen.

"Mereka kerja, bukan magang. Kerjanya juga bukan bekerja biasa, tapi memiliki posisi strategis. Gajinya tidak ada yang di bawah Rp22 juta per bulan," katanya.

Rudi mengatakan, ada peluang bagi siswa SMA/SMK untuk bekerja di Jepang dalam bidang care worker atau perawat lansia. Sudah ada 63 rumah sakit di Jepang mengajukan permohonan pekerja careworker dari Jabar.

Menangkap peluang itu, SGE dan Disdik Jabar berkolaborasi dengan Okayama Institute of Languages, Konan Gakuen, dan Konan Group Welfare Hospital Kochi Jepang bekerja sama membuat konsep “Japan Indonesia Students Net (J.I.S.N)” untuk menjaring para calon perawat. Dari 622 pendaftar, hanya 30 orang yang dinyatakan lolos seleksi untuk diberangkatkan Oktober 2019. 

“Dalam program ini, ada skema pendidikan bahasa Jepang selama 1 tahun 6 bulan di Okayama Institute of Languages, pendidikan di Akademi Care Worker selama 2 tahun, dan jaminan pekerjaan selama 3 tahun di beberapa rumah sakit lansia di Jepang sebagai tenaga perawat lansia bersertifikasi,” ujarnya.

Rudi menegaskan, selama mengikuti rangkaian pendidikan di Jepang, siswa akan mendapatkan pekerjaan paruh waktu dan penghasilan untuk memenuhi biaya hidupnya selama di Jepang.

Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat Dewi Sartika menyampaikan, program kerja sama pendidikan dalam konsep program Japan Indonesia Student Net akan membantu meningkatkan mutu pendidikan dalam penyerapan lulusan SMA dan SMK di Provinsi Jawa Barat.

"Program kerja sama pendidikan dalam konsep program JISN ini akan membantu meningkatkan mutu pendidikan dalam penyerapan lulusan SMA dan SMK di Provinsi Jawa Barat," ujar Dewi. (Dery Fitriadi Ginanjar)

Loading...