Gerindra-PKS Mendominasi, Jabar Lebih Dinamis

Gerindra-PKS Mendominasi, Jabar Lebih Dinamis
Ketua KPU Provinsi Jabar Rifqi Ali Mubarok (ketiga kiri) bersama Komisioner Bidang Teknis KPU Provinsi Jabar Endun Abdul Haq (kedua kanan) mengenakan pakaian adat saat memimpin rapat pleno penetapan perolehan kursi partai politik di Gedung KPU Jawa Barat, Bandung, Selasa (13/8/2019). (Antara Foto)

INILAH, Bandung-Sebagai sekutu abadi, Partai Gerindra dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mendominasi komposisi kursi legislatif DPRD Provinsi Jawa Barat. Kondisi tersebut diprediksi bakal menjadikan roda pemerintahan di Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jabar lebih dinamis.

Pengamat politik Karim Suryadi mengatakan cukup banyak kader Gerindra dan PKS yang kalah di tingkat nasional namun tidak untuk Jawa Barat. Menurut dia, hal tersebut akan menjadikan hubungan pemerintah legislatif dan eksekutif di Jabar 60 persen kritis dan 40 persen adem ayem.

"Menurut saya, 60 persen akan kritis dan 40 persen adem ayem," ujar Karim.

Hal tersebut, dia sampaikan, menginta dua partai politik yang mendominasi di susunan DPRD Jabar tersebut bersebrangan secara haluan politik dengan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil. Baik itu pada pemilihan gubernur (Pilgub) bahkan di pemilihan presiden (Pilpres) 2019 lalu.  Diketahui dalam Pilgub 2019 lalu, Ridwan Kamil diusung oleh PKB, PPP, Nasdem dan Hanura. 

"Ada peluang Gerindra-Pks mempertahankan dominasinya di Jabar. Akan jadi motivasi mereka," katanya 

Hanya saja, Karim juga menilai, legislatif bisa saja mengambil arah aman dengan pola lobi-lobi dan kompromi dengan Gubernur. Sehingga akan melemahkan anggota legislatif itu untuk melakukan kritik dan menyepakati menjalankan pemerintahan yang adem ayem. 

"Sisi lain mengayun pada titik ekstrim di mana kedua kekuatan main mata, mengambil kompromi-kompromi, lobi-lobi, sama-sama cari aman, meski bersebrangan tapi sepakat menjalankan pemerintahan dengan adem ayem," katanya.

Menurut dia, berbagai kemungkinan bisa saja terjadi. Namun yang jangan dilupakan, yaitu kedua pihak masih memiliki harapan untuk periode 2024 nanti. Apalagi, lanjut Karim, Ridwan Kamil sudah menunjukan tanda-tanda melenggang ke tingkat nasional. 

"Dia harus memberikan insentif bagus bukan hanya mendorong pemerintahan efektif, tapi menciptakan iklim politik komunikasi dengan dewan," imbuhnya. 

Karim menuturkan, dengan posisi Gerindra 25 kursi dan PKS 21 di DPRD Jabar diharapkan harus dinamis. Berdasarkan pengalamannya  dalam politik acap kali lebih dipicu ketakutan kehilangan kekuasaan maupun dukungan. 

"Jadi bisa saja memilih adem ayem, tapi siap kehilangan dukungan dan popularitas. Itu modal mereka melaju 2024. Setiap pilihan akan mengandung risiko," katanya. (Rianto Nurdiansyah)