Zonasi Guru Harus Sesuai Karakteristik Daerah

Zonasi Guru Harus Sesuai Karakteristik Daerah
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung Juhana. (Dani Nugraha)

INILAH, Bandung - Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung Juhana menilai wacana zonasi guru yang dilontarkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhajir Effendy cukup bagus. Namun tetap harus mempertimbangkan karakteristik daerah alias tidak bisa disamaratakan di semua daerah.

"Itu wacana yang bagus untuk mendekatkan guru dengan sekolah tempat mereka mengajar. Tapi tetap harus memerhatikan karakteristik daerahnya, yah seperti di Kabupaten Bandung untuk di beberapa daerah mungkin tidak bisa dilakukan karena memang sebagian besar gurunya dari luar daerah. Kalau dizonasikan bisa habis semua gurunya," kata Juhana di Soreang, Selasa (13/8/2019).

Selama ini, kata Juhana, untuk beberapa daerah yang di pinggiran seperti di Kecamatan Rancabali, Kertasari, Ibun, dan beberapa kecamatan lainnya, tenaga guru yang mengajar di sekolah SDN dan SMPN rata-rata domisilinya berasal dari luar daerah.

Seperti dari Soreang, Katapang, Banjaran, bahkan ada juga guru yang berasal dari Kota Bandung dan Kabupaten Sumedang. Tentunya, jika diberlakukan zonasi sekolah-sekolah tersebut bisa kosong. Namun sebaliknya, di daerah perkotaan jumlah guru bisa berlebihan.

"Yah selama ini sumber daya manusia-nya di daerah pinggiran yang berprofesi guru masih kurang atau bahkan tidak ada. Kecuali, pemerintah mau mengangkat guru di daerah daerah tersebut. Tapi tetap pengangkatan guru ini harus sesuai kualifikasi, minimal dia itu pendidikannya harus S-1 ilmu keguruan," ujarnya.

Juhana melanjutkan, saat ini saja dengan jumlah SDN kurang lebih 1.500 dan dan SMPN 77 sekolah, pihaknya masih kekurangan sekitar 7.000-an orang guru.

Saat ini, sekolah sekolah negeri itu terdapat guru yang berstatus PNS dan juga guru honorer. Itu artinya, jika saja zonasi guru diberlakukan maka akan ada banyak guru yang eksodus dan mengajar di tempat dekat rumahnya. 

Namun demikian, lanjut Juhana, ia merasa optimistis jika wacana zonasi guru itu bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan nasional. Karena pastinya rencana tersebut telah melalui penelitian para ahli dan akademisi pendidikan.

Sebenarnya soal zonasi itu bukan hal baru, karena selama ini juga sudah ada yang namanya zonasi mutu pendidikan. Contohnya dalam satu zona itu terdapat fasilitas pendidikan yang bagus di satu sekolah, itu bisa dimanfaatkan juga oleh sekolah lainnya yang masih satu zona.

“Saya yakin wacana itu tentunya untuk kemajuan dan peningkatan kualitas pendidikan nasional, kalau suatu saat diberlakukan, tinggal disesuaikan saja sama karakteristik daerahnya," katanya. 

Sebelumnya, Mendikbud Muhadjir Effendy mengampaikan, rencana penerapan sistem zonasi guru tersebut diterapkan mulai redistribusi hingga pelatihan guru di masing-masing zona. Di mana peraturan tersebut nantinya akan dituangkan dalam bentuk Peraturan Presiden (Perpres).

"Setelah ini nanti kita akan menangani guru berbasis zonasi. Mulai dari redistribusi dan alokasi guru, termasuk pengangkatan guru baru, termasuk pemberian dan pelatihan guru juga semua akan diatur ke jenjang zonasi," kata Muhadjir, Jumat (26/7/2019). (Dani Nugraha)