Kapolri Berikan Sejumlah Pertanyaan di Sidang Disertasi Boy Rafli Amar

Kapolri Berikan Sejumlah Pertanyaan di Sidang Disertasi Boy Rafli Amar
Foto: Ridwan

Bandung - Kapolri Jenderal Tito Karnavian menjadi penguji tamu dalam sidang promosi doktor Wakil Kepala Lembaga Pendidikan dan Pelatihan (Wakalemdiklat) Polri Irjen Boy Rafli Amar di Universitas Padjajaran (Unpad), Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Rabu (14/8/2019).

Dalam sidang promosi doktor tersebut. Kapolri memberikan sejumlah pertanyaan untuk Boy Rafli Amar. Diantaranya, terkait manajemen media dan pengaruhnya bagi tingkat kepercayaan publik bagi institusi Polri.

Untuk mencairkan suasana sidang tersebut. Kapolri Tito sempat bergurau kepada Boy dan seluruh tamu undangan sidang. Sembari tersenyum, Tito mengungkapkan, dirinya hadir sebagai akademisi untuk menguji disertasi Boy Rafli Amar. Oleh karena itu, Tito mempersilahkan Boy untuk menjawab apapun kepadanya tanpa rasa canggung.

"Di sini saya bukan sebagai Kapolri, Pak Boy mau jawab apa saja boleh. Saya dalam kapasitas akademik," ujar Tito.

Selanjutnya, Kapolri Tito mengajukan pertanyaan. Pertanyaanya Tito berkaitan dengan manajeman media dan seberapa besar pengaruhnya bagi institusi Polri.

"Lebih penting jor-joran me-manage media sehingga opini terbentuk, image Polri membaik atau lebih penting reformasi di internal Polri. Mana yang lebih penting? Manajemen medianya atau langkah lapangannya. Kalau simultan mana yang lebih dominan?," ungkap Tito.

Selain itu, Tito juga menanyakan terkait tanggapan Boy atas maraknya media sosial dan media konvensional. Serta, pengelolaan yang baik bagi media sosial.

"Terakhir, bagaimana kita bisa kelola social media karena semua orang bisa jadi citizen jurnalis. Kita tahu social media saat pemilu capek kita hoax banyak sekali, dilakukan upaya penegakan hukum ITE, apakah promovendus menilai Undang-undang ITE sudah cukup? Atau perlu lebih keras lagi?," tuturnya.

Selanjutnya, menangapi pertanyaan tersebut. Boy mengungkapkan, perlu dilakukan secara simultan baik manajemen Polri maupun reformasi di tubuh Polri. Sedangkan Untuk media sosial dan konvensional, Boy menilai keduanya nemilki segmentasi pasar masing-masing.

"Fenomen konvensional dan media sosial mana lebih dominan walaupun dalam hal ini, konvensional setidaknya memiliki pelanggan sendiri," jawab Boy.

Sedangkan untuk pertanyaan terkait UU ITE. Boy menjelaskan, UU ITE di indonesia saat ini sudah baik. Oleh karena itu, hal tersebut harus dijaga dan ditaati oleh masyarakat indonesia.

Undang-undang yang ada cukup mempuni. Oleh karenanya komponen masyarakat meyakinkan pihak ruang publik medsos harus dijaga dipelihara agar hukum terap berlaku dan semua patuh terhadap hukum sebagaimana dialami di dunia nyata. Penegakan hukum dilaksanakan, literasi dilaksanakan dapat diwujudkan secara tanggung jawab," pungkasnya.

Perlu diketahui, dalam sidang tersebut, Boy diuji oleh Dr. Dadang Rahmat Hidayat, Dr. Dadang Sugiana, Prof. Deddy Mulyana, Dr. Edwin Rizal, Dr. Atwar Bajari, Dr. Ninis Agustini Damayani, De. Siti Karlinah, Prof Mahfud Arifin dan penguji tamu Kapolri Jendral Tito Karnavian. (Ridwan)