Kenapa Audisi PB Djarum Baru Diusik KPAI di 2019?

Kenapa Audisi PB Djarum Baru Diusik KPAI di 2019?
(Istimewa)

INILAH, Jakarta - Setelah berjalan selama 13 tahun, Audisi Beasiswa Bulu tangkis PB Djarum dinyatakan bermasalah oleh KPAI karena dituding ada eksploitasi anak. Ini penjelasan KPAI.

Audisi Beasiswa Bulu Tangkis PB Djarum pertama kali digelar pada 2006. Beberapa nama besar yang pernah mengharumkan Merah Putih seperti Kevin Sanjaya Sukamuljo, Mohammad Ahsan, Liliyana Natsir, dan Tontowi Ahamad pun tercatat merupakan hasil didikan PB Djarum.

Setelah satu dekade berjalan mulus, audisi bulu tangkis PB Djarum tahun 2019 dipermasalahkan oleh KPAI. Mereka menyoroti audisi beasiswa bulutangkis yang diadakan PB Djarum di bawah Djarum Foundation dinilai melakukan eksploitasi anak.

Dalam pelaksanaannya di beberapa daerah di Indonesia, PB Djarum menggunakan anak-anak sebagai media brand-image merek rokok produk mereka.

Anak-anak yang mengikuti audisi diberi kaus bulutangkis yang bertuliskan merek Djarum di bagian dada sebagai sponsor utama. Selain itu, di lokasi audisi juga dipenuhi atribut identik merek Djarum.

Kegiatan tersebut dianggap melanggar Peraturan Pemerintah (PP) 109 yang mengatur perlindungan khusus bagian anak dan perempuan hamil. Pada PP 109 Tahun 2012 terutama pasal 47, menyatakan bahwa "Setiap penyelenggaraan kegiatan yang disponsori produk tembakau dan atau bertujuan untuk mempromosikan produk tembakau dilarang mengikutsertakan anak di bawah usia 18 tahun".

Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 109 Tahun 2012 tentang pengamanan bahan yang mengandung zat adiktif berupa produk tembakau bagi kesehatan diteken Susilo Bambang Yudhoyono pada 24 Desember 2012. PP Tersebut adalah kepanjangan tangan UU Nomor 36/2009 tentang Kesehatan.

Langkah KPAI meminta PB Djarum menghentikan audisi bulu tangkis menimbulkan tanya di masyarakat, kenapa baru sekarang?

Ketua KPAI, Sutanto, menjelaskan alasan lembaga pimpinannya baru menyoroti audisi PB Djarum karena peraturan baru tersebut relevan dengan isu eksploitasi anak terkini.

"Gini pertama seiring berjalannya waktu aturan baru terbit, sebagaimana saya asosiasikan seperti ini, dulu orang tua memukul anak untuk mendidik, saat itu UU tidak ada yang membatasi sedangkan saat ini dengan adanya norma baru harus menyesuaikan dengan aturan yang ada apalagi komitmen pemerintah cukup tinggi untuk meningkatkan indeks perlindungan anak di Indonesia," jelas Sutanto di Gedung Kemenpora, Jakarta, Kamis (12/9/2019).

"Kami sampaikan memang cukup banyak ya indikatornya tetapi kami berpijak pada PP 109 2012 itu sungguh konkrit bahwa tidak boleh kegiatan yang disponsori produk tembakau menampilkan brand image di badan anak, apalagi brand image zat adiktif, jadi kita harus melindungi anak-anak kita," ia memungkasi.

KPAI Cabut Surat Permintaan Penghentian Audisi Bulu tangkis PB Djarum

Setelah dilakukan mediasi oleh Menpora, Imam Nahrawi, KPAI dan PB Djarum menelurkan kesepakatan terkait keberlangsungan audisi bulu tangkis. KPAI melunak dengan mencabut Surat Keputusan tertanggal 29 Juli 2019 tentang permintaan pemberhentian Audisi Djarum.

Sementara PB Djarum bersedia mengubah nama yang semula Audisi Umum Beasiswa PB Djarum 2019 menjadi Audisi Umum Beasiswa Bulutangkis tanpa menggunakan logo, merek, dan brand image Djarum.

Loading...