Tanamkan Rasa Persatuan dan Kerukunan melalui Tradisi Mendongeng

Tanamkan Rasa Persatuan dan Kerukunan melalui Tradisi Mendongeng
Guru dan Penulis Sri Asih, (Istimewa)

INILAH, Pasuruan - Membangun persatuan dan kerukunan bangsa dapat dimulai dengan penanaman rasa persatuan dan kerukunan hidup di lingkungan keluarga.

Sejak hidup di lingkungan keluarga, anak-anak wajib memperoleh bekal hidup bersatu dan rukun. Mengingat, keluarga merupakan madrasah pertama dan utama bagi anak.

Salah satu teknik yang ampuh untuk penanaman rasa persatuan dan kerukunan di dalam keluarga  adalah tradisi mendongeng sebelum tidur.

Banyak manfaat yang dapat diambil dari dongeng. Dongeng dapat memberikan hiburan, mengajarkan kebenaran, dan memberikan keteladanan. Apabila dongeng dibawakan dengan cara yang tepat dan benar, anak akan bisa mendapatkan nilai pesan dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Makin banyak mengenal cerita dari dongeng, anak akan makin kaya pengalaman dan pengetahuan tentang ragam membangun persatuan dan kerukunan bangsa Indonesia.

Dengan bekal pengetahuan tentang ragam membangun persatuan dan kerukunan bangsa, anak akan berkembang menjadi generasi yang arif dan kreatif untuk membangun persatuan dan kerukunan bangsanya.

Hal-hal yang harus diperhatikan agar nilai-nilai positif dari dongeng efektif untuk membangun persatuan dan kerukunan bangsa:

  1. Naskah dongeng dikemas menjadi cerita yang menarik.
  2. Dongeng yang dipilih hendaknya dongeng yang isinya bersentuhan langsung dengan ajaran moral, akhlak, keteladanan hidup, persatuan dan kerukunan.
  3. Mendongeng dengan bahasa yang baik dan mudah dipahami anak.
  4. Waktu dan tempat yang paling tepat untuk mendongeng adalah menjelang anak berangkat tidur.
  5. Sosok yang paling efektif menanamkan nilai akhlak dan kepribadian kepada anak melalui budaya mendongeng yaitu Ibu, sosok yang sangat dekat dan selalu berinteraksi dengan anak.
  6. Contoh naskah dongeng yang dipilih oleh ibu adalah dongeng nusantara dan perjuangan pahlawan nasional (Pangeran Diponegoro, Jenderal Sudirman, Teuku Umar, Tuanku Imam Bonjol, Cut Nyak Dien, RA Kartini, dan masih bayak lagi yang lainnya).
  7. Pada akhir kegiatan mendongeng sebaiknya dilakukan kegiatan diskusi dan refleksi tentang isi dongeng dan cara mengaplikasikannya dalam kehidupan anak sehari-hari.
  8. Anak diberi kebebasan untuk memilih tokoh dalam dongeng yang berkarakter baik dan  menyebutkan upaya untuk bisa meniru kebaikannya.
  9. Anak diberi penjelasan dan pengarahan untuk tidak meniru tokoh cerita dalam dongeng yang berkarakter jahat.
  10. Anak menyebutkan upaya-upaya untuk hidup dalam persatuan, kerukunan, dan terhindar dari sifat jahat.

Nah, membangun persatuan dan kerukunan bangsa bisa dimulai dengan kebiasaan mendongeng di lingkungan keluarga. Mengingat, keluarga merupakan fondasi dasar dan utama.

Di samping itu, kebiasaan mendongeng di lingkungan keluarga banyak manfaat yang dapat diperoleh. Kebiasaan mendongeng sebelum tidur dapat membangun kedekatan dan keakraban antara orang tua dan anak.

Selanjutnya, keakraban antara orang tua dan anak akan mendatangkan rasa aman dan kasih sayang. Rasa aman dan kasih sayang dari orang tua merupakan bekal bagi sang anak untuk tumbuh menjadi manusia yang memiliki pengendalian diri, percaya diri, penuh toleransi, cinta persatuan dan kerukunan.

Semoga nilai-nilai akhlak dan moral dalam dongeng atau cerita dihayati dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari oleh sang anak sehingga kelak sang anak tumbuh menjadi pemuda Indonesia yang memiliki semangat persatuan dan kesatuan.

Oleh: Sri Asih

Guru dan penulis yang aktif dalam berbagai kegiatan literasi siswa dan guru di Kota Pasuruan

Loading...