Sikap Kami: Sang Penyelamat Bangsa

Sikap Kami: Sang Penyelamat Bangsa

KORAN ini, pada edisi kemarin, menyebutnya sebagai tokoh penyelamat bangsa. Frasa itu sengaja kita cantumkan untuk memperlihatkan peran Bacharuddin Jusuf Habibie menyelamatkan negeri ini hanya selama 502 hari.

Habibie memimpin negeri ketika kita sedang porak-poranda. Krisis moneter yang kemudian menjelma menjadi krisis ekonomi, menghajar negara-negara Asia Tenggara dan Timur. Negeri sungguh tercabik-cabik saat itu.

Habibie yang mampu memperbaikinya. Dia keluarkan enam undang-undang penting yang menghentikan perpecahan negeri. Mulai kebebasan pers, partai politik, hingga otonomi daerah. Dia keluarkan undang-undang persaingan usaha, dia tetapkan Bank Indonesia sebagai lembaga independen, dia selamatkan bank-bank dari ancaman kebangkrutan akut dengan Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN).

Dengan itu, recovery ekonomi Indonesia cepat terjadi. Dalam 502 hari, dia berhasil menurunkan kurs dolar terhadap rupiah dari Rp15 ribu menjadi Rp6.500. Ekonomi kembali menggeliat. Tentu tidak sempurna. Dia bukan ekonom, tapi teorinya membangun ekonomi membuat ekonom menyebut sebagai mazhab Habibienomics.

Kenapa Habibie bisa melakukannya? Kita meyakininya karena hal yang mendasar: ketulusan, kemauan, kerja keras, integritas. Dia melakukannya tanpa beban meski bebannya terlalu berat.

Habibie adalah pemimpin Indonesia sejati. Dia betul-betul tak berjarak dengan rakyat. Bukan dibuat-buat seolah tak berjarak. Tengoklah saat dia bertemu rakyat,  senyum dan ketawanya lepas. Tampil di televisi kadang-kadang sampai ‘ngakak’.

Dia betul-betul cinta dengan negerinya. Bukan pemimpin pemburu kuasa, apalagi pemburu harta. Dia satu di antara sedikit pemimpin negeri yang tak mengalami post power syndrome setelah tak lagi jadi presiden.

Sayangnya, pemimpin separipurna itu, disia-siakan oleh negerinya karena permainan (baca: kebusukan) politik. MPR menolak pertanggungjawabannya hanya karena dia meletakkan Timor Timur ke dalam jalur sejarahnya yang tepat.

Padahal, dengan tren peningkatan kualitas bangsa, dan terutama ekonomi, selama setahun lebih dia pimpin, bayangkanlah betapa dahsyatnya kemajuan negeri ini. Mungkin sudah jadi salah satu ‘Macam Asia’ yang hingga kini masih menjadi mimpi kita. (*)
 

Loading...