Partai Konservatif Inggris Pelintir 'Headline' Iklan Berbayar Facebook

Partai Konservatif Inggris Pelintir 'Headline' Iklan Berbayar Facebook
Boris Johnson, ketua Partai Konservatif Inggris, meninggalkan pesta pribadi di pusat kota London, Inggris, Selasa (23/7/2019).

INILAH, London- Pemeriksa fakta pihak ketiga di Facebook, Full Fact, pada Jumat (13/9) menuduh Partai Konservatif Inggris telah memelintir "headline" sebuah artikel BBC News yang mereka bayar sebagai iklan di media sosial tersebut.

Full Fact menemukan fakta bahwa partai Perdana Menteri Boris Johnson itu membayar iklan di Facebook yang terhubung ke tautan artikel dengan judul "£14 miliar poundsterling dikucurkan untuk sekolah."

Padahal, artikel yang asli berjudul "Anggaran sekolah: kucuran miliaran poundsterling diumumkan." Dan tanpa menuliskan angka £7,1 miliar, penggunaan £14 miliar justru menjadi angka yang tidak biasa untuk perhitungan anggaran.

"Hal ini salah karena kerja jurnalis yang independen dipelintir sedemikian caranya dan bisa menyesatkan pembaca," kata Pimpinan Eksekutif Full Fact, Will Moy.

Baik pihak Partai Konservatif maupun BBC belum berkomentar terkait hal ini. Namun, jurnalis BBC penulis artikel itu, Sean Coughlan, menulis sebuah cuitan di Twitter, "satu-satunya yang merujuk pada £14 miliar dalam tulisan itu adalah kepala statistik yang menyebut angka tersebut tidak benar untuk digunakan."

Lebih lengkapnya, dalam artikel itu memang dimasukkan analisis dari kepala bidang statistik BBC, Robert Cuffe, yang menyebut bahwa pemerintah tidak memperhitungkan penambahan anggaran secara normal.

"Mendeskripsikan penambahan sebesar £14 miliar akan membuat pemerintah terlihat lebih dermawan dibandingkan kenyataannya," tulis Robert dalam analisis tersebut.

Full Fact mengungkapkan BBC memberitahukan pihaknya bahwa media itu tidak pernah mengubah 'headline' artikel. Facebook juga mengonfirmasi bahwa 'headline' bisa diubah oleh pihak yang membayarnya sebagai iklan di media sosial itu.

"Kami bekerja membuat perlindungan di Facebook untuk memastikan pembayar iklan bisa mengontrol cara mereka menulis 'headline' yang muncul dalam iklan tersebut," kata humas Facebook kepada Reuters.

Menurut Full Fact, artikel yang "headline"-nya dipelitir itu telah dibaca sebanyak 220 ribu hingga 510 ribu kali sejak 2 September lalu. Saat berita ini diturunkan, iklan artikel itu berstatus tidak aktif di perpustakaan iklan umum di Facebook.
 

Loading...