Kamera iPhone 11 Pro Bisa Timbulkan Trypopobhia

Kamera iPhone 11 Pro Bisa Timbulkan Trypopobhia
Ilustrasi/Net

INILAH, London - Desain tiga kamera belakang iPhone 11 Pro dan iPhone 11 Pro Max ternyata dapay menimbulkan ketakutan atau fobia bagi sejumlah orang.

Mengutip Metro.co.uk, banyak warganet yang mengunggah foto iPhone 11 Pro atau iPhone 11 Pro Max seraya mengatakan bahwa desain kamera pada lini smartphone teranyar Apple itu menimbulkan trypophobia.

Ketakutan ini bukanlah pertama kali terjadi akibat kamera smartphone. Sebelumnya, Nokia 9 PureView juga disebut menimbulkan trypophobia karena lima kamera yang tersebar di bagian belakangnya.

Trypopobhia adalah ketakutan irasional terhadap lubang berpola, misalnya sarang semut atau lebah, lubang pada kayu, kelopak pada bunga, dan lain sebagainya.

Istilah trypophobia baru diciptakan oleh internet pada 2005, meski kondisi ini sudah ada jauh sebelum internet berkembang.

Dalam penelitian yang diterbitkan di jurnal Peer J pada 2018, beberapa ilmuwan yang terlibat dalam penelitian menyebut bahwa trypopobhia bukanlah fobia yang identik dengan ketakutan berlebih terhadap sesuatu, melainkan timbul lebih karena rasa jijik.

Penelitian ini bermula karena kurangnya pemahaman terhadap trypophobia. Manual Diagnostik dan Statistik Mental Disorder (DSM) bahkan tidak mengenalinya.

Peneliti dari Emory Univerity pernah tertarik untuk mempelajari respons ketakutan yang berhubungan dengan lubang. Mereka menggunakan teknologi pemeriksaan mata untuk mempelajari respons pupil mata saat para relawan melihat gambar.

Ada 60 gambar yang ditunjukkan yang terdiri dari 20 gambar hewan berbahaya seperti laba-laba dan ular; 20 gambar pemicu trypopobhia dengan gambar lubang pola berulang, dan 20 gambar netral seperti binatang yang tidak berbahaya.

Saat ditunjukkan gambar binatang yang berbahaya, hasil penelitian mengungkapkan jika pupil relawan menjadi lebih besar sebagai respons dari ketakutan.

Sementara itu, saat ditunjukkan gambar-gambar pemicu trypopobhia, pupil menjadi lebih kecil yang menunjukkan rasa jijik.

"Gambar lubang menyebabkan penyempitan pupil yang mengindikasi respons terkait dengan rasa jijik, bukan ketakutan," kata Vladislav Ayzenberg, penulis utama studi ini, seperti dikutip dari Science Alert.

Rasa jijik berjalan beriringan dengan detak jantung dan pernapasan yang lebih lambat untuk membuat tubuh lebih berhati-hati terhadap lingkungan sekitarnya dan mempersiapkan diri untuk bahaya yang akan terjadi.

"Kita adalah spesies yang sangat visual. Dari apa yang kita lihat memungkinkan kita untuk menyimpulkan dengan segera, serta bereaksi terhadap potensi bahaya," tambah Ayzenberg.

Lantas mengapa manusia merasa jijik dengan lubang berpola? Tim peneliti berpendapat bahwa pola lubang seperti yang ditemukan pada bunga teratai dan sarang lebah dapat membangkitkan keengganan manusia untuk melihat.

Ini karena pola tersebut menyerupai parasit atau penyakit menular. Manusia dan makhluk primata lainnya kemungkinan telah terhubung dengan tanda-tanda itu sejak lama.

Penelitian ini memang tidak membantu mengatasi trypopobhia, namun setidaknya membantu menunjukkan bagaimana visual dapat menghasilkan reaksi selain rasa takut terhadap sesuatu.

Para ilmuwan meyakini bahwa trypophobia bersifat adaptif evolusioner, di mana manusia secara alamiah menghindari hal-hal yang dapat membahayakan dirinya.

Dalam studi mengenai trypophobia pertama yang dipublikasikan dalam Psychological Science oleh Wilkins dan kolega, peneliti menemukan gambar-gambar pemicu kondisi ini memiliki distribusi bintik, bentol atau lubang yang sama dengan hewan-hewan yang beracun, seperti gurita bercincin biru.

Gambar-gambar ini juga memiliki tingkat kontras yang sama dengan hewan-hewan tersebut.

Alhasil, Wilkins dan kolega pun menyebut bahwa trypophobia mungkin berasal dari penghindaran adaptif evolusioner terhadap hewan beracun.

Akan tetapi, studi lain yang dipublikasikan pada 2018 dalam jurnal Cognition and Emotion mengungkapkan bahwa fobia ini mungkin berevolusi dari respons kita terhadap penyakit.

Pasalnya, kumpulan lubang menyerupai luka dan bentol pada penyakit-penyakit menular kuno, seperti cacar. Penulis studi ini juga menulis bahwa trypophobia bukan menimbulkan rasa takut, tetapi jijik.

Rasa takut dan rasa jijik memiliki pengaktifan sistem saraf yang berbeda. Rasa takut, seperti ketika Anda melihat ular, membuat tubuh memasuki modus berperang-atau-lari.

Sementara itu, rasa jijik, seperti ketika Anda melihat makanan busuk, mengaktifkan sistem saraf parasimpatetik yang membuat tubuh rileks sebagai upaya menghemat energi.

Pendapat ini diperkuat oleh studi lain yang dipublikasikan pada 2018 di jurnal PeerJ. Studi tersebut menemukan bahwa pupil mata partisipan melebar ketika melihat foto ular, dan mengecil ketika melihat foto lubang-lubang.

Pengecilan pupil ini merupakan salah satu tanda pengaktifan sistem saraf parasimpatetik. (Inilahcom)

Loading...