Logo HUT Ke-209 Kota Bandung Tuai Kontroversi

Logo HUT Ke-209 Kota Bandung Tuai Kontroversi
Ilustrasi (Agus SN)

INILAH, Bandung - Jelang Hari Jadi Kota Bandung ke-209, Pemerintah Kota Bandung meluncurkan logo barunya sebagai rangkaian menyambut HJKB pada 25 September 2019 mendatang. 

Launching logo ini rutin dilakukan setiap tahunnya. Desain yang inovatif dengan tema dan konsep yang baru selalu memiliki makna tersendiri setiap tahunnya. 

Kendati demikian, logo yang di launching dalam HJKB ke-209 nyatanya menuai kontroversi di kalangan praktisi dan akademisi desain komunikasi di Bandung diantaranya Prodi Desain Komunikasi Sosial, Asosiasi Profesi Desainer Komunikasi Visual (AIDIA), Asosiasi Desain Grafis Indonesia, BCCF, dan komunitas desainer dan freelancer Bandung. 

Hal yang cukup mengagetkan dan menjadi 'tamparan' bagi para akademisi dan praktisi ini adalah esensi dari logo HJKB ini seolah ada yang hilang dalam proses perancangan logo ini, termasuk ekspresi logo HJKB ini sebagai spirit masyarakat kota Bandung. 

Selain itu, kota Bandung yang kini berstatus kota kreatif UNESCO yang mestinya menjadi barometer tumbuhnya kreatifitas di Indonesia. Dengan diluncurkannya logo baru HJKB Ke-209 seakan menjadi pertanda putusnya mata rantai antara Pemkot Bandung dengan kreatif, akademisi, asosiasi, komunitas, dan forum kreatif. 

Sejumlah pertanyaan dan pernyataan berkaitan dengan logo HJKB ke-209 pada ruang diskusi kecil yang digelar berkat kerjasama Obor Desain dengan AIDIA, BCCF, dan CMYK.id dalam sebuah diskusi terbuka yang bertemakan " Ngobrolkeun Logo 209 Kota Bandung" di Kantin Nasion The Panas Dalam, Jalan Ambon No. 8A, Bandung, Jumat (13/9/2019).

Narasumber yang dihadirkan adalah praktisi, akademisi, dan budayawan seni di Kota Bandung antara lain Denny Nugraha, Rahmat Djabaril, LQ. Hendrawan (Kang Uci), Gustaff Harriman, Tita Larasati, dan sejumlah pakar desainer lainnya. 

Denny Nugraha Praktisi desain kota Bandung menilai, logo ini dirilis 7 hari yang lalu, desain ini memperlihatkan kemunduran. Ada burung kutilang, dan itu bukan simbol entitas kota Bandung, harusnya logonya bisa mengakomodir entitas dari kota Bandung sendiri. 

"Sebelum mendesain logo hut kota Bandung, desainer seharusnya bisa mengetahui dan memahami entitas atau DNA dari kota Bandung iti sendiri," ujarnya. 

Sementara itu Tita Larasati dari BCCF menuturkan, Bandung ini memakai desain sebagai bentuk protes, tentang bagaimana desain ini bisa menjadi representasi dan ekspresi sekaligus solusi untuk permasalahan. 

"Ketika Bandung ini terpilih sebagai kota kreatif Unesco, kita telah membuat komitmen bersama pemkot Bandung untuk menjaganya. Namun, ternyata sekarang komitmen itu tidak dipakai," tuturnya. 

Tita menjelaskan, setiap empat tahun sekali UNESCO selalu mengadakan evaluasi dan tahun 2019 ini giliran kota Bandung ini untuk di evaluasi. "Jika tidak ada inovasi maka kemungkinan status kota kreatif ini akan dicabut oleh UNESCO," jelasnya. 

Dalam diskusi tersebut keseluruhan narasumber menyatakan kekecewaan terhadap logo HJKB ke-209 yang dinilai telah mengecewakan para praktisi dan akademisi serta komunitas yang bergerak di bidang desain. 

Logo tersebut dinilai tidak merepresentasikan identitas dari kota Bandung. Hal tersebut tentunya menjadi cerminan dari situasi dan kondisi dari kinerja pemerintah kota Bandung yang tidak terkonsep dan terarah. (Agus SN)

Loading...