IHSG Bisa Bergerak Melemah

IHSG Bisa Bergerak Melemah
Foto: Net

INILAH, Jakartaa - IHSG di awal perdagangan pekan ini berpotensi akan melemah. Hal ini seiring potensi turunnya saham-saham emiten rokok, setelah pemerintah memutuskan untuk menaikkan tarif cukai rokok sebesar 23% dan mengingat besarnya market caps dari HMSP dan GGRM dapat mempengaruhi indeks.

Menurut praktisi pasar modal, Stefanus Mulyadi Handoko, setelah itu IHSG kemungkinan akan mengalami konsolidasi menanti pengumuman kebijakan moneter dari The Fed dan BI. The Fed juga berpotensi akan memangkas suku bunga acuannya sebesar 25 bps.

"Sementara BI diperkirakan akan menahan suku bunga acuannya tetap di level 5,5%, setelah dalam 2 bulan terakhir berturut-turut memangkas suku bunga acuannya sebesar 25 bps," tulisnya dalam hasil riset Minggu (15/9/2019).

Untuk pekan ini, pelaku pasar tengah menunggu kebijakan suku bunga The Fed dan suku bunga berbagai negara termasuk BI rate.

Berikut adalah data dan agenda ekonomi penting, baik dari dalam dan luar negeri yang akan menjadi perhatian dari para investor pekan ini.

Senin 16 September 2019, Rilis data perdagangan Indonesia
Selasa 17 September 2019,Kebijakan moneter suku bunga Australia (RBA). Rabu 18 September 2019, Rilis data perdagangan Jepang, Rilis data inflasi Inggris, Rilis data persediaan minyak AS, Kebijakan moneter suku bunga AS dan konferensi pers The Fed.

Kamis 19 September 2019, Rilis data pekerjaan Australia, Kebijakan moneter suku bunga Jepang dan konferensi pers BOJ, Kebijakan moneter suku bunga Indonesia (BI), Rilis penjualan ritel Inggris dan kebijakan suku bunga Inggris (BOE), Rilis data manufaktur AS. Jumat 20 September 2019 , Rilis data inflasi Jepang.

Bursa Wall Street ditutup bervariasi pada perdagangan akhir pekan kemarin. Pelemahan saham Apple di tengah rilis data penjualan ritel AS bulan Agustus yang mengalami kenaikan 2 kali lipat dari perkiraaan, menjadi faktor utama yang mempengaruhi pergerakan pasar saham utama AS.

Dow Jones naik 37,07 poin (+0,14%) dan melanjutkan reli penguatannya dalam delapan hari berturut-turut menjadi 27.219,52. Sedangkan indeks S&P 500 turun tipis 2,18 poin (-0,07%) menjadi 3.007,39, tertekan oleh turunnya saham Apple setelah Goldman Sachs memangkas target harga untuk saham pembuat iPhone tersebut.

Sementara Nasdaq turun 17,75 poin (-0,22%) menjadi 8.176,71. Sepanjang pekan lalu, ketiga indeks saham utama AS membukukan kenaikan mingguan ketiga berturut-turut, setelah melihat tanda-tanda potensi cairnya perang perdagangan antara AS-China. Dalam seminggu, Dow Jones mengalami kenaikan sebesar +1,57%, S&P 500 menguat +0,96% dan Nasdaq meningkat +0,91%.

Dari dalam negeri, IHSG melemah tipis 7,33 poin (-0,12%) ke level 6.334,84 pada akhir pekan. Investor asing menjual saham dengan mencatatkan net sell sebesar Rp 111 miliar di pasar regular. Sepanjang pekan kedua bulan September ini, IHSG berakhir positif setelah mengalami peningkatan sebesar +0,41%, meski investor asing masih membukukan net sell senilai Rp783 miliar di pasar reguler.

Pada perdagangan pekan lalu, IHSG bergerak cukup fluktuatif. IHSG sempat menguat menembus keatas level psikologis 6.400 dan naik hingga level tertinggi di 6.414. Ini seiring meredanya ketegangan perdagangan antara AS-China dan juga berkat stimulus dari Uni Eropa, setelah ECB memangkas suku bunga deposito sebesar 10 bps dan melancarkan program pembelian obligasi putaran baru dengan target senilai 20 miliar Euro dalam jangka waktu yang tidak dibatasi.

Namun aksi profit taking melanda IHSG jelang akhir pekan, membuatnya kembali terkoreksi dan ditutup di level 6.334, setelah IHSG mengalami reli kenaikan selama 6 hari berturut-turut. Pelaku pasar melakukan aksi profit taking terhadap saham-saham yang sudah mengamali reli kenaikan yang cukup tinggi, terutama saham sektor pertambangan, seiring dengan turunnya beberapa harga komoditas global.

Harapan akan adanya damai dagang antara AS-China dan juga ekspektasi turunnya suku bunga ECB dan The Fed, menjadi pemicu utama penguatan IHSG dan mayoritas bursa saham utama dunia pada pekan lalu. Secara teknikal, IHSG masih berada di fase uptrend dalam jangka pendek, setelah sempat keluar dari area konsolidasinya dan menembus keatas downtrend resistance line nya.

Namun kegagalan IHSG melanjutkan tren naik jangka pendeknya, membuatnya kembali berpotensi terkonsolidasi melanjutkan pola pergerakan sideways. Indikator teknikal MACD masih cenderung bergerak naik dan bertahan diatas centreline, mengindikasikan bahwa IHSG masih cenderung bergerak positif. IHSG untuk pekan ini diperkirakan akan bergerak dalam rentang lebar dikisaran area support 6.239 dan resistance di level 6.468. (INILAHCOM)

Loading...