Ini Alasan Jasa Tirta Urung Keringkan Irigasi Jatiluhur

Ini Alasan Jasa Tirta Urung Keringkan Irigasi Jatiluhur

INILAH, Purwakarta – Perum Jasa Tirta (PJT) II Jatiluhur berencana melakukan pengeringan saluran air guna mengecek kondisi irigasi di sepanjang aliran Sungai Citarum menuju wilayah hilir. Recanananya, pengeringan tersebut akan dilakukan pada September ini. Namun sayang, rencana tersebut harus dibatalkan.

Pasalnya, sampai saat ini permintaan air dari Waduk Jatiluhur untuk kebutuhan pesawahan dan air baku ke wilayah hilir masih cukup tinggi sehingga pengeringan ini urung dilakukan. Padahal, hal ini perlu dilakukan supaya ketika ada kerusakan di sarana irigasi ataupun ada tanggul yang rawan jebol bisa terdeteksi sejak dini.

Direktur Operasional dan Pengembangan PJT II Jatiluhur, Antonius Aris Sudjatmiko, upaya pengeringan tersebut sebenarnya penting dilakukan. Sehingga, ketika ada kerusakam di jaringan irigasi, bisa terdeteksi dan perusahaannya bisa melakukan langkah antisipasi.

“Kami terpaksa membatalkan pengeringan saluran irigasi di bulan September ini. Karena, sampai saat ini masih ada aktivitas pertanian,” ujar Antonius, Senin (16/9/2019).

Dia menjelaskan, di musim kemarau ini ada areal pesawahan seluas 185 ribu hektare yang membutuhkan air dari Waduk Jatiluhur. Dengan begitu, program pengeringan yang telah disetujui oleh gubernur itu, tidak bisa terealisasi di tahun ini.

Selain masih adanya aktivitas pertanian, sambung dia, pengeringan ini urung dilakukan karena saat ini sedang memasuki puncak musim kemarau. Suplai air untuk kepentingan irigasi tak mungkin disetop.

Sebenarnya, jika rencana ini terealisasikan seharusnya air yang keluar dari Waduk Jatiluhur melalui dua hallow jet yang ada tidak mengalir terlalu besar ke wilayah hilir. Akan tetapi, kondisi saat ini air yang keluar untuk wilayah hilir, mencapai 185 meter kubik per detik.

Menurut dia, air yang keluar ini dinilai sangat besar. Dengan kondisi ini, jelas memengaruhi ketinggian muka air (TMA) Waduk Jatiluhur. Saat ini saja, TMA waduk tersebut hampir di bawah 95 meter di atas permukaan air laut.

Pihaknya melansir, di musim kemarau ini TMA terus mengalami penyusutan. Penyebabnya, air yang keluar cenderung sangat besar. Di sisi lain, air yang masuk dari Waduk Cirata melalui Sungai Citarum, debitnya sangat kecil.

Aris menambahkan, saat ini status Waduk Jatiluhur bisa dikatakan kondisinya kering. Bahkan, bisa dibilang sudah mendekati batas operasi normal bawah (BONB). Dengan begitu, perlu serangkaian langkah dan upaya untuk memertahankan volume air. Supaya, air di Waduk Jatiluhur ini tetap normal.

“Upaya terakhir kami, yakni dengan program hujan buatan (modifikasi cuaca). Saat ini, kita sedang membahas untuk program hujan buatan ini,” pungkasnya. (Asep Mulyana)
 

Loading...