Sengketa Bisnis Sushi Tei Gugat Boga Group

Sengketa Bisnis Sushi Tei Gugat Boga Group
Ilustrasi/Net

INILAH, Jakarta- Satu lagi sengketa bisnis antar pelaku ekonomi sektor makanan. Adalah Sushi-Tei Pte Ltd (Singapura) dan PT Sushi-Tei Indonesia menggugat PT Boga Inti (Boga Group) dan Kusnadi Rahardja selaku pemilik dan Presiden Direktur Boga Inti.

Pihak Susi Tei menilai telah terjadi pelanggaran atas hak ekslusif merek Sushi-Tei. Diduga kuat, Boga Grup selaku tergugat telah menimbulkan kesalahan persepsi di publik, bahwa Sushi-Tei merupakan bagian dari Boga Group. Atas persepsi tersebut, pihak penggugat merasa dirugikan dan menuntut ganti rugi sebesar US$250 juta atau setara Rp3,5 triliun.

Dalam sidang yang dipimpin Hakim Makmur, kuasa hukum Sushi-Tei, James Purba mengatakan, para tergugat tanpa persetujuan dari penggugat telah membuat pernyataan yang tidak benar dan menyesatkan publik. Disebutkan bahwa merek Sushi Tei merupakan bagian dari Boga Group.

Bentuk penyesatan, kata dia, antara lain adanya pernyataan di situs Boga Group mengenai salah satu pencapaian perusahaan adalah pencapaian restoran Sushi-Tei. Selanjutnya, banyak produk dari Restoran Boga Group yang memiliki kemasan fisik dengan mencantumkan merek Sushi-Tei.

Selain itu, lanjutnya, Kusnadi Rahardja dalam sejumlah wawancara dengan media menyatakan bahwa Sushi-Tei merupakan bagian dari Boga Group.

"Ini menyesatkan karena Restoran Sushi-Tei tidak pernah dan tidak akan pernah menjadi bagian dari Grup Boga. Para tergugat tidak pernah mendapatkan persetujuan baik dari Sushi-Tei Singapura maupun Sushi-Tei Indonesia untuk menggunakan nama Sushi-Tei dalam situs, brosur maupun kartu nama Grup Boga. Juga tidak pernah ada persetujuan untuk menyampaikan pernyataan ke media bahwa Sushi Tei merupakan bagian dari Grup Boga," jelas James di Jakarta, Senin (16/9/2019).

Menurut James, perbuatan para tergugat merupakan pelanggaran atas hak ekslusif kliennya atas merek Sushi-Tei dan bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 20/2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis (Undang-Undang Merek). "Para tergugat telah menyalahgunakan merek Sushi-Tei tanpa persetujuan, seolah-olah merek tersebut adalah bagian dari Grup Boga, selama sedikitnya 10 tahun," ujarnya.

James melanjutkan, penggunaan merek tanpa izin itu telah menguntungkan para tergugat karena citra dan kualitas tinggi Sushi-Tei yang sudah diakui. Sebaliknya, hal itu menimbulkan sejumlah kerugian bagi Sushi-Tei (Singapura) dan Sushi-Tei Indonesia. Pertama, kerugian atas kehilangan investasi untuk kegiatan promosi merek Sushi-Tei sebesar US$100 juta.

Kedua, kehilangan keuntungan pendapatan karena para tergugat telah mendapatkan keuntungan sebesar US$50 juta dari penggunaan mereka atau penyesatan informasi bahwa Sushi-Tei bagian dari Boga Group. Ketiga, rusaknya reputasi Sushi-Tei yang jika dikalkulasikan kerugiannya tidak kurang dari US$100 juta.

Sementara, kuasa hukum tergugat, Oktavianus Wijaya mengaku belum bisa berkomentar karena masih mempelajari berkas gugatan. Rencananya pihak tergugat akan menyampaikan jawabannya saat sidang berikutnya pada 25 September 2019.

Sushi Tei Pte Ltd (STPL) adalah pemilik sah dari merek Sushi-Tei. Saat ini, terdapat lebih dari 80 restoran Sushi-Tei dan merek terafiliasinya di 8 negara termasuk Indonesia. Sejak 25 Maret 2004, merek Sushi-Tei resmi terdaftar di Direktorat Jenderal kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan HAM, yang kemudian diperpanjang selama 10 tahun hingga 15 April 2023. [ipe]

Loading...