Pengamat Sebut Lima Sektor Industri Making Indonesia Miliki Daya Ungkit

Pengamat Sebut Lima Sektor Industri Making Indonesia Miliki Daya Ungkit
Konsultan Kemenperin dan WEF Shirley Santoso. (Antara)

INILAH, Jakarta - Konsultan Kementerian Perindustrian (Kemenperin) dan World Economy Forum (WEF) Shirley Santoso menilai lima sektor industri dalam peta jalan industri Making Indonesia 4.0 memiliki daya ungkit tinggi  terhadap perekonomian Indonesia.

"Saat menyusun Making Indonesia 4.0, kami  membandingkan semua sektor industri di Indonesia dan melihat terdapat lima sektor industri yang daya ungkitnya tinggi terhadap perekonomian Indonesia, apakah itu dari sisi potensi ekspor, menciptakan multiplier effect, dan kemudahan untuk melakukan implementasi," ujar Shirley Santoso dalam suatu wawancara di Jakarta, Senin (16/9/2019).

Dia menjelaskan bahwa fokus terhadap lima sektor industri yang terdiri atas makanan dan minuman; tekstil; kimia; elektronik; dan otomotif, sangat penting bagi Indonesia pada waktu mendatang. Selain itu, fokus terhadap lima sektor ini juga ditetapkan mengingat sumber daya yang dimiliki Indonesia amat terbatas.

Konsultan yang menjabat sebagai Presiden Direktur PT AT Kearney tersebut juga menuturkan penetapan 10 prioritas nasional dalam inisiatif Making Indonesia 4.0, dimulai dari identifikasi permasalahan di industri Indonesia itu apa saja, dan pada saat bersamaan kesempatan yang dimiliki Indonesia dalam sektor industri.

Terdapat 10 pokok permasalahan seperti kebutuhan bahan baku yang perlu diperbaiki karena masih bergantung pada impor, kemudian zona industri yang harus didesain ulang agar lebih maksimal, keterampilan sumber daya manusia yang harus lebih produktif dan terlatih.

“Kalau kita bandingkan produktivitas per unit cost di Indonesia masih kalah dibandingkan China, Vietnam dan India. Ini harus diperbaiki," kata Shirley Santoso.

Kemudian dari sisi infrastruktur digitalnya juga masih perlu diperbaiki, lalu ekosistem inovasi yang meliputi riset dan pengembangan masih perlu ditingkatkan. Selain itu dari sisi harmonisasi peraturan dan investasi asing yang lebih sistematik. Hal-hal tersebut perlu diidentifikasi dan pada saat bersamaan perlu juga melihat kekuatan Indonesia berada di mana.

Dalam dokumen Making Indonesia 4.0 yang diterima redaksi, Indonesia akan membangun lima sektor manufaktur dengan daya saing regional. Kelima sektor tersebut adalah industri makanan dan minuman, tekstil, otomotif, kimia dan elektronik.

Sektor ini dipilih menjadi fokus setelah melalui evaluasi dampak ekonomi dan kriteria kelayakan implementasi yang mencakup ukuran PDB, perdagangan, potensi dampak terhadap industri lain, besaran investasi, dan kecepatan penetrasi pasar.

Indonesia akan mengevaluasi strategi dari setiap fokus sektor setiap tiga sampai empat tahun untuk meninjau kemajuannya dan mengatasi tantangan pelaksanaannya. (Antara)

Loading...