Akibat Kekeringan, Garut Kehilangan 15,5 Ribu Ton GKG

Akibat Kekeringan, Garut Kehilangan 15,5 Ribu Ton GKG
Foto: Zainulmukhtar

INILAH, Garut - Selain kehilangan produksi padi akibat gagal panen karena kekeringan, tak sedikit petani di Kabupaten Garut harus kembali gigit jari. Pasalnya, serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) memperparah hilangnya produksi padi mereka pada musim kemarau 2019.

Sekretaris Dinas Pertanian Garut Haeruman mengatakan, OPT paling menonjol yang menimbulkan kerusakan tanaman padi di Garut terutama hama tikus, penggerek batang, dan wereng coklat.

Menurutnya, per 15 September 2019 ini produksi padi yang hilang akibat serangan hama tikus mencapai sebanyak 119.900 kg gabah kering giling (GKG) atau setara Rp659 juta. Sedangkan, luas lahan sawah terserang hama tikus mencapai 135 hektare yang tersebar di 20 kecamatan.

"Namun 96 hektare di antaranya sudah dikendalikan secara kimiawi, dengan pengumpanan, dan emposan tikus," kata Kepala Seksi Serelia Bidang Tanaman Pangan Endang Junaedi, Senin (16/9/2019).

Dia menyebutkan, hama tikus menyerang tanaman padi di sawah pada musim kemarau karena sudah tak ada makanan di darat akibat kekeringan. Hama tikus sendiri memiliki daya jelajah cukup jauh jika mengalami kelaparan, mencapai 700-800 m. Dalam kondisi perutnya, daya jelajah mereka hanya mencapai 100 m.

Areal sawah terserang penggerek batang lebih luas lagi daripada yang diserang hama tikus, mencapai 154 hektare tersebar di 25 kecamatan, dengan intensitas kerusakan ringan. Sedangkan, areal sawah diserang wereng coklat mencapai 17 hektare tersebar di 2 kecamatan.

Menurut Endang, upaya paling efektif mencegah merebaknya serangan OPT sebenarnya bisa dilakukan dengan melakukan pola tanam yang teratur. Idealnya, pengolahan sawah itu setelah ditanami padi maka musim tanam berikutnya ditanami palawiji. Setelah itu baru ditanami padi lagi. Cara tersebut bisa memutus perkembangan OPT.

"Tapi itu tergantung petani sendiri. Sedangkan petani kita umumnya sepanjang ada air, pasti menanam padi. Mereka juga sulit bertanam serempak. Ini persoalannya," ujarnya.

Dia menegaskan, produksi padi di Garut yang hilang akibat kekeringan sendiri mencapai 15,5 ribu ton GKG atau setara Rp85,4 miliar. Angka kerugian itu berasal dari areal sawah kekeringan seluas 3.129 hektare dengan intensitas mulai kekeringan ringan, sedang, berat hingga puso yang tersebar di seluruh wilayah kecamatan. (Zainulmukhtar)

Loading...