Luar Biasa, Dulu Calo Kawin Kontrak Diterbangkan ke Saudi Arabia

Luar Biasa, Dulu Calo Kawin Kontrak Diterbangkan ke Saudi Arabia
Foto: Reza Zurifwan

INILAH, Cisarua - Aktivis perempuan dan anak yang enggan disebutkan namanya menuturkan, kawin kontrak yang mulai terjadi di Kawasan Puncak pada 2008 lalu susah diberantas karena jaringannya luar biasa atau terlalu rumit.

"Kalau menurut saya, kawin kontrak susah diberantas dan mungkin masih ada karena jaringannya luar biasa kusutnya hingga calo kawin yang merupakan warga sini (Indonesia) diterbangkan ke Saudi Arabia untuk mencari 'kliennya'," tuturnya kepada Inilah, Senin (16/9/2019).

Wanita yang berdomisili di kawasan Puncak itu menambahkan, kisah calo kawin kontrak yang menawarkan kawin kontrak hingga datang ke Saudi Arabia ini bahkan pernah ditulis salah satu media negara petrodolar pada 2010 lalu.

"Keberangkatan calo kawin kontrak ke Saudi Arabia itu dibiayai sindikat yang ada di Saudi Arabia. Kawin kontraknya sendiri sudah dilarang MUI karena keluar dari ajaran agaam Islam, namun saat itu propaganda para calon kawin kontrak bahwa orang Saudi Arabia itu keturunan Nabi Muhammad SAW itu cukup kuat hingga orang tua si perempuan terpedaya dan mau menikahkan anaknya," tambahnya.

Wanita paruh baya ini menjelaskan dirinya sendiri pernah mau mengadvokasi korban kawin kontrak yang berdomisili di Cisarua karena remaja putri  malang tersebut stres setelah dicerai suami karena ketahuan tidak perawan lagi.

"Karena orang tuanya memiliki hutang perempuan remaja putri yang hanya lulusan SMP tersebut 'dipaksa' menikah oleh orang tuanya, karena tak rela dia pun menyerahkan kegadisannya ke pacarnya dan karena ia sudah tidak gadis lagi mempelai pria kawin kontrak asal timur tengah pun marah besar karena merasa dibohongi oleh calonya hingga sehari setelah menikah, remaja putri tersebut pun dicerai hingga dia stres dan parahnya lagi ketika ia ingin kembali ke pacarnya, remaja  lelaki tersebut pun menolaknya. Saya waktu itu mau mengadvokasi dan merehab kejiwaan korban namun ketika saya kerumahnya ternyata ia sudah pindah rumah hingga saya tidak pernah lagi berjumpa dengan si korban," jelasnya.

Ia memaparkan tidak semua wisatawan asal Saudi Arabia atau timur tengah datang ke Kawasan Puncak untuk melakukan kawin kontrak, karena lebih banyak dari mereka membawa keluarganya dalam berwisata ke Kawasan Puncak.

"Hasil riset saya, mayoritas wisatawan asal timur tengah atau Saudi Arabia yang berwisata ke Kawasan Puncak membawa keluarganya dan yang khusus datang melakukan kawin kontrak itu jumlahnya hanya sedikit saja hingga kita tidak bisa menjustifikasi bahwa semua wisatawan asal negara petro dollar tersebut datang ke Kawasan Puncak untuk menjalankan kawin kontrak," papar aktivis mahasiswa '80an ini.

Walaupun tidak semua wanita yang menjalani kawin kontrak menjalani nasib naas namun ada juga yang beruntung hingga kini sudah memiliki tiga orang anak dan tetap dicukupi kebutuhannya. Ia meminta pemerintah terutama Bupati Bogor Ade Yasin untuk mengantisipasi masalah ini.

"Kami berharap Bupati Bogor Ade Yasin yang merupakan sesama wanita bisa mengantisipasi permasalahan praktek kawin kontrak ini dengan mendidik atau membekali remaja wanita dengan ilmu keagamaan, keterampilan, maupun kebudayaan," lanjutnya.

Sebelumnya, Wakil Bupati Bogor Iwan Setiawan mengatakan ustadz maupun ulama yang tergabung di dalam  Majelis Ulama Indonesia (MUI) Cisarua sudah mensosialisasikan bahwa kawin kontrak itu dilarang agama Islam karena hal itu merupakan ajaran Syiah.

"Para ulama sudah mensosialisasikan bahwa kawin kontrak itu haram hukumnya, karena kawin kontrak itu ajarannya Syiah," jelas Iwan.

Pernyataan tersebut diamini Ketua MUI Cisarua KH Rohmatullah. Dia menegasakan, kawin kontrak itu haram karena sangat merugikan salah satu pihak yaitu istri dan juga karena kawin kontrak itu ajaran Syiah dan bukannya ajaran agama Islam.

"Kami sudah menegaskan bahwa kawin kontrak itu haram. Kami sudah meminta masyarakat tidak mengikuti ajaran Syiah atau nikah dengan penganut ajaran Syiah. Apalagi, MUI pusat sudah mengeluarkan fatwa bahwa Syiah bukanlah bagian dari agama Islam," tegas KH Rohmatullah. (Reza Zurifwan)

Loading...