Proyek KCIC Dinilai Rugikan Warga Lembah Teratai

Proyek KCIC Dinilai Rugikan Warga Lembah Teratai
Pengurus Forum Komunikasi Warga Terdampak Proyek KCIC RW XII, Perumahan Lembah Teratai. (Agus SN)

INILAH, Ngamprah - Proyek pembangunan Kereta Cepat Indonesia-Cina (KCIC) tuai protes warga Lembah Teratai, Kabupaten Bandung Barat. 

Dalam prosesnya, warga sempat mengalami intimidasi dari oknum PT Wika.  Hal tersebut diungkapkan Ketua RT 04 sekaligus pengurus Forum Komunikasi Warga Terdampak Proyek KCIC RW XII, Perumahan Lembah Teratai, Yulianto Rahardjo (51). 

Dia menuturkan, awalnya beberapa tahun yang lalu, PT KCIC datang ke sini dan menyosialisasikan akan adanya pembangunan proyek kereta api cepat, kemudian berkumpul dan berdialog dengan warga untuk mengumpulkan data-data. 

"Kami sebagai warga pun turut memberikan informasi dan data-data yang dibutuhkan, dengan pertimbangan proyek nasional. Namun pada kenyataannya, nilai kompensasi yang diberikan sangat amburadul banget dan bahkan di bawah pasar," ungkapnya. 

Yulianto menjelaskan, setelah itu pihaknya melayangkan protes. Namun, mereka (oknum PT Wika) malah mengancam akan membawa permasalahan ini ke pengadilan dan lain sebagainya. Tapi, forum warga mengabaikan hal tersebut. 

"Sempat adem, tapi mereka kembali lagi muncul dengan bendera yang berbeda yakni PSBI dan mengatakan permasalahan yang kemarin itu bukan mereka, kayanya itu pihak swasta yang bermain, dan lain sebagainya," jelas Yulianto. 

Lebih jauh Yulianto menjelaskan, setelah itu, pihak dari PSBI kembali melakukan negosiasi dan membuat kesepakatan baru, tapi hingga saat ini kompensasi yang diberikan bukan ganti untung, melainkan hanya penggantian senilai pembelian dari bangunan saja, itu pun tanpa ada musyawarah sebelumnya. 

"Kita diundang terus disodorin nilai, mau terima apa tidak? Tanpa ada negosiasi yang baik. Ada banyak kejanggalan yang dirasakan oleh kami," terangnya. Yulianto menambahkan, forum warga terus berjuang untuk mencari keadilan meski harus ke pengadilan. 

"Akhirnya dari perjuangan kami, ada sedikit peningkatan nilai antara 10 sampai 20 persen dari harga bangunan di pasaran," pungkas Yulianto. (Agus SN)