Rasul Tetap Menegur Kesalahan dengan Kesantunan

Rasul Tetap Menegur Kesalahan dengan Kesantunan
Ilustrasi/Net

DARI Muawiyah bin Hakam As-Sulamiy radhiyallahu anhu, ia berkata,

"Aku ketika itu shalat bersama Nabi shallallahu alaihi wa sallam lalu ada seseorang yang bersin dan ketika itu aku menjawab yarhamukallah (semoga Allah merahmatimu). Lantas orang-orang memalingkan pandangan kepadaku. Aku berkata ketika itu, "Aduh, celakalah ibuku! Mengapa Anda semua memandangku seperti itu?" Mereka bahkan menepukkan tangan mereka pada paha mereka. Setelah itu barulah aku tahu bahwa mereka menyuruhku diam. Lalu aku diam. Tatkala Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam selesai shalat, ayah dan ibuku sebagai tebusanmu (ungkapan sumpah Arab), aku belum pernah bertemu seorang pendidik sebelum dan sesudahnya yang lebih baik pengajarannya daripada beliau. Demi Allah! Beliau tidak menghardikku, tidak memukul, dan tidak memakiku. Beliau bersabda saat itu, Sesungguhnya shalat ini, tidak pantas di dalamnya ada percakapan manusia, karena shalat itu hanyalah tasbih, takbir dan membaca Al-Quran." (HR. Muslim, no. 537)

Faedah Hadits:
- Tetap menegur yang salah.
- Mengingatkan orang yang salah tidak mesti dengan menghardik, mencaci atau memukul.
- Perlu kesantunan dalam berdakwah.
- Dalam shalat tidak boleh ada percakapan manusia, termasuk pula doa berupa bahasa non-Arab dalam shalat.
- Mengucapkan alhamdulillah ketika bersin dibolehkan.
- Diajarkan adab saat bersin.

[baca lanjutan]

Sumber: Inilahcom

Loading...