Bos Lawas Hipmi Akui Era Jokowi Masih Ada Monopoli

Bos Lawas Hipmi Akui Era Jokowi Masih Ada Monopoli

INILAH, Jakarta- Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), Bahlil Lahadalia menyebut sejumlah pekerjaan rumah (PR) untuk pengurus anyar HIPMI untuk periode 2019-2022.

"Saat ini anggota HIPMI sekitar 42.000, pengusaha kita itu baru mencapai sekitar 3,1 persen dari total penduduk. Jadi bagaimana HIPMI mencetak pengusaha muda bertambah agar tercipta kesejahteraan di masyarakat," ujar Bahlil di sela Musyawarah Nasional XVI HIPMI di Jakarta, Selasa (17/9/2019).

Menurut dia, pertumbuhan ekonomi nasional yang di atas lima persen tidak cukup merata, karena masih terdapat ketimpangan di beberapa daerah. Pemerataan ekonomi harus terus diperjuangkan untuk meminimalisasi permasalahan sosial. "Memperjuangkan pemerataan ekonomi itu salah satunya dengan mendorong jumlah pengusaha di daerah," ucap Bahlil.

Namun yang menjadi masalah adalah, kata Bahlil, sebagian besar anak-anak muda di Indonesia memiliki kecenderungan ingin menjadi pegawai dibandingkan menjadi pengusaha. "Padahal negara ini butuh banyak pengusaha untuk pemerataan ekonomi," kata Bahlil.

Selain itu, ia juga mengatakan bahwa HIPMI juga harus mengawal bagaimana menciptakan konglomerat baru. Artinya, HIPMI harus bermitra strategis dengan pemerintah, sehingga tercipta keberpihakan peraturan, di antaranya kemudahan pembiayaan bagi pengusaha yang masih muda. "Saat ini masih banyak pengusaha-pengusaha muda yang kesulitan untuk mengakses pembiayaan dari perbankan," ujar Bahlil.

Menurut dia, pemerintah mempunyai peran besar dalam menciptakan konglomerat di Indonesia, karena pemerintah dapat menciptakan aturan yang mendukung bisnis para pengusaha. Kata dia, HIPMI juga harus dapat mendorong pengusaha muda naik kelas. Saat ini, belum banyak muncul konglomerat baru di Indonesia. "Pengusaha muda untuk naik kelas itu berat. Salah satu persoalannya adalah monopoli di Indonesia itu terlalu tinggi," kata Bahlil.

Menurut dia, bisnis dari hulu ke hilir di Indonesia masih dikuasai oleh satu korporasi yang sama, itu membuat pengusaha muda hanya menjadi penonton. "Harusnya bila di hulu dikelola perusahaan A, maka di hilir dikelola oleh perusahaan B atau yang lain, itu akan menciptakan pemerataan," ucap Bahlil. [Inilahcom]

Loading...