Rumor Kenaikan Sewa Kios Menguat, Begini Reaksi Kepala Pasar Sukasari

Rumor Kenaikan Sewa Kios Menguat, Begini Reaksi Kepala Pasar Sukasari

INILAH, Bogor- Akhirnya, Kepala Pasar sukasari Kurnia Saparida angkat bicara soal rumor kenaikan harga sewa kios dan los yang kabarnya hingga dua kali lipat.

Rumor tersebut menguat setelah keluar surat tagihan nomor 005/056/IX/SKR/2019 tentang Sewa Tahunan Kios/Los. Menurut Kurnia, surat tersebut memang rutin disebar tanpa adanya informasi soal kenaikan harga sewa.

"Ini penagihan biasa, karena kan pasar Sukasari saat ini, ada pedagang dari gedung lama dan yang memang sudah berdagang di gedung eks Sangrila ini. Ini pembedaan pedagang yang mempunyai KIPTB dengan yang tidak memiliki," ungkap Kurnia kepada INILAH pada Selasa (17/9/2019).

Kurnia melanjutkan, kebanyakan pedagang sudah menyelesaikan piutang. Klasifikasi pedagang di pasar Sukasari sendiri, ada pedagang yang memiliki BHPTB dan KIPTB, ada yang mengontrak dan pedagang yang mau masuk.

"Intinya kan unit melakukan penagihan sesuai peruntukannya, terkait sewa kios/los yang di keluarkan Perusahaan Daerah Pasar Pakuan Jaya (PD PPJ) Kota Bogor pada 6 September 2019. Saya mengeluarkan surat ini juga sudah berkoordinasi dengan kantor pusat PD PPJ, jadi sudah mengetahui pasti ada pedagang yang menolak. Tahun 2018 ada piutang pedagang ke pasar Suaksari Rp242 juta," tambahnya.

Kurnia menjelaskan, saat ini kuota kios dan los total 114 untuk pedagang di basement, lalu 77 kios dilantai dasar plus ada beberapa tenant. Yang terjadi dilapangan terkadang ada pedagang yang menyewa langsung, lalu ada pedagang yang mengontrak dari orang yang menyewa kios.

"Karena itu kami menarik pedagang yang menyewa dari orang, agar menyewa langsung ke PD PPJ. Karena kami pertahunnya mengeluarkan tarif untuk kios pedagang yang memiliki KIPTB Rp2 juta sementara yang tidak Rp4 juta pertahun. Untuk los yang memiliki KIPTB Rp1,3 dan Rp2,5 juta pertahun. Nah, pedagang yang menyewa ke orang bisa mencapai Rp1,5 juta perbulan. Bisa dibayangkan berapa satu tahunnya," jelasnya.

Kurnia membeberkan, apabila pedagang memang tidak membayar sewa, pihak unit bisa mencabut izin berdagang nya. Selain itu dilihat juga tingkat kepatuhan service charge perhari. Namun dirinya mengeluarkan kebijakan persuasif dengan memberikan saran kalau pedagang keberatan dengan menyewa dua kios, boleh dengan satu kios saja tapi tidak berhutang.

"Itu cara kami, jadi memberikan satu kios kepada pedagang lain yang ingin berdagang. Ini juga menekan piutang dan agar pedagang tidak keberatan membayar sewa juga servis charge. Sehingga kedepannya pasar Sukasari bisa lebih banyak varian dan ramai pedagangnya serta pembelinya. Perihal adanya parkir elektronik di pasar Sukasari, diperjanjia  dengan pihak ketiga maksimal motor Rp5.000, mobil Rp8.000 dan mobil box Rp12.000. Kalau tidak sesuai kami ajukan ke pusat untuk evaluasi," bebernya.

Sementara itu, salah satu pedagang di Pasar Sukasari Budi mengaku, kaget ketika harga sewa kios/los yang harus dibayarnya naik hingga dua kali lipat.

"Biasanya tiap tahun itu saya bayar sewa hanya Rp2,4 juta, tapi sekarang kenapa menjadi Rp4 juta," keluhnya kepada wartawan.

Budi mengatakan, surat edaran yang mencantumkan harga sewa kios sebesar Rp2 juta untuk pedagang yang memiliki Kartu Ijin Pemakaian Tempat Berdagang (KIPTB) dan Rp4 juta untuk pedagang yang belum memiliki KIPTB, sedangkan bagi penyewa los yang memiliki KIPTB Rp1,3 juta dan Rp2,5 juta bagi yang tidak memiliki KIPTB. Sebelumnya tidak ada pemberitahuan atau sosialisasi kepada para pedagang tersebut.

"Surat edaran ini kami terima begitu saja tanpa adanya pemberitahuan awal atau sosialisasi dari pihak pengelola pasar," katanya.

Pedagang Sukasari lainnya, Ela mengatakan, dirinya mengeluhkan kenaikan tersebut. Menurut Ela, sewa los yang biasa dirinya bayar hanya Rp700 ribu pertahun. Tapi sekarang naik jadi Rp1,3 juta dan pajak pedagang juga yang bayar. Selain itu, Ela mengeluhkan soal palang parkir otomatis yang berada di depan pintu masuk Pasar Sukasari yang membuat pengunjung makin sepi.

"Sebelum ada palang parkir saja pengunjung sudah sepi, eh sekarang malah dipasang parkiran begitu," terangnya. (Rizki Mauludi)

Loading...