Roy Suryo: Syukur Tak Tergiur

Roy Suryo: Syukur Tak Tergiur

DI mata publik, Roy Suryo dan Imam Nahrawi itu ibarat minyak dan air. Kerap mereka bertikai di ruang publik. Selain afiliasi politik yang berbeda, juga oleh persoalan tuduhan Kemenpora yang mempermalukan Roy Suryo.

“Saya pernah dibuat sakit hati atas tuduhan membawa barang-barang milik negara,” ujar Menteri Pemuda dan Olahraga Kabinet SBY II itu.

Hanya saja, karena pernah memimpin kementerian di kawasan Senayan itu, Roy Suryo tak dendam. Itu sebabnya, dia pun menyampaikan keprihatinannya atas apa yang terjadi di Kemenpora saat ini, terutama terkait penetapan status tersangka dugaan penerimaan suap kepada Imam Nahrawi.

“Bagi saya, ini bukan sesuatu yang saya inginkan. Bagaimanapun, Kemenpora adalah keluarga besar saya,” ujar politisi Partai Demokrat itu di Yogyakarta, Rabu (18/9).

Roy mengatakan kasus ini bisa menimpa siapa saja yang menjabat di Kemenpora. “Kasus semacam ini serta peluangnya sejak dulu ada di Kemenpora. Pasalnya dana hibah ke KONI tiap tahun dikeluarkan. Tapi sebagai Menpora, saya bersyukur tidak pernah tergiur meskipun banyak risiko yang harus saya terima,” kata Roy.

Menurut Roy, salah satu risiko keputusan terkait hibah KONI adalah banyaknya omongan dari jajaran Kemenpora yang menyayangkan keputusan hibah. Saat itu, Roy menyatakan dana itu bukan hak jajaran Kemenpora, melainkan KONI.

“Jadi saat dana itu keluar dari kas negara, saya langsung tanda tangani dan langsung diserahkan ke Ketua KONI yang waktu itu dijabat Toni Suratman. Saat itu banyak keluhan kenapa tidak ada yang ‘lewat’,” ujarnya.

Roy mengatakan rasa prihatinnya bertambah saat ingat dia diangkat sebagai Menpora pengganti Andi Mallarangeng yang juga terjerat korupsi di kasus Wisma Atlet. 

Sebagai mantan Menpora, Roy bilang sempat berusaha mengingatkan Menteri Imam agar berhati-hati. Pesan itu juga dititipkan ke Komisi X DPR RI.

Menurut dia, Menpora akan mendapat banyak cobaan dan godaan. Selain terkait KONI, cobaan terberat juga berasal dari pelaksanaan Asian Games tahun lalu karena melibatkan banyak dana.

“Selama menjabat Menpora saya betul-betul menerapkan good government dengan tidak membawa gerbong ke kementerian. Semua infrastruktur SDM yang disiapkan negara saya maksimalkan untuk menghindari pemberian status istimewa,” pungkasnya. (ing)