RI-UEA Jajaki Pembentukan Dana Abadi sebagai Alternatif Pembiayaan

RI-UEA Jajaki Pembentukan Dana Abadi sebagai Alternatif Pembiayaan
Ilustrasi (Antara)

INILAH, Jakarta - Indonesia bersama Uni Emirat Arab menjajaki pembentukan dana abadi (Sovereign Wealth Fund/SWF) sebagai alternatif pembiayaan untuk pembangunan infrastruktur atau investasi.

Dalam keterangan tertulis di Jakarta, Kamis, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan menerima proposal pembentukan dana abadi itu dari pemerintah UEA.

"Sebagai hasil diskusi dengan Abu Dhabi Investment Authority (ADIA), Menteri Energi, CEO Mubadala dan beberapa pejabat tinggi di Abu Dhabi tentang 'sovereign wealth fund', usulan ini segera kami pelajari dan saya harap keputusan soal ini tidak akan lama," kata Luhut dalam pertemuan di Abu Dhabi, Selasa (17/9).

Pembentukan Indonesian Sovereign Wealth Fund akan menjadi "pooling" (kumpulan) dana investasi dari berbagai negara termasuk UEA. Dengan cara itu, investasi ke Indonesia dapat ditingkatkan secara bertahap menjadi 5 miliar dolar AS hingga 10 miliar dolar AS.

Dana tersebut bisa digunakan untuk pembiayaan proyek-proyek infrastruktur atau investasi secara umum.

"Pihak UEA akan berkunjung ke Indonesia bulan depan, bertemu dengan Kementerian Keuangan Indonesia dan Sarana Multi Infrastruktur untuk membahas skema, peraturan dan perundangan yang diperlukan untuk pembentukan SWF dimaksud. Mereka juga akan berbagi pengalaman dengan Indonesia dalam pembentukan 'wealth fund' dengan India, dan dengan Mesir," terangnya.

Menurut Luhut, dengan konsep pengelolaan oleh dana abadi tersebut, maka aset-aset negara yang dikelola BUMN dapat ditingkatkan efisiensi pemanfaatanya untuk meningkatkan dampak terhadap kemakmuran masyarakat.

Kendati kepemilikan saham pemerintah di bawah 50 persen, dengan kontrak yang baik, pemerintah tetap dapat mengendalikan BUMN tersebut. Sementara pengelolaannya diharapkan akan lebih efisien karena dikelola oleh profesional dari SWF.

Dana abadi atau SWF adalah lembaga finansial yang dimiliki oleh negara yang memiliki atau mengatur dana publik dan menginvestasikannya ke aset-aset yang luas dan beragam dengan tujuan untuk mendapat pengembalian yang lebih besar.

Selain membahas mengenai dana abadi tersebut, dibahas pula implementasi investasi ADIA sekitar 1 miliar dolar AS di proyek properti, real estat, termasuk pengembangan destinasi wisata dan ke proyek-proyek swasta.

Pada pertemuan tersebut, Luhut didampingi oleh Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan Luky Alfirman, serta Direktur Utama PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) Edwin Syahruzad. (Antara)

Loading...