Sikap Kami: 'Koreng' di Kemenpora

Sikap Kami: 'Koreng' di Kemenpora

KALIMAT Imam Nahrawi saat berpamitan dengan pegawai Kementerian Pemuda dan Olahraga menarik disimak. “Semoga pengganti saya nanti lebih baik, bersih, lebih suci, dan lebih bisa menjaga perasaan,” katanya.

Sejatinya, Kemenpora itu tak butuh menteri yang amat suci, amat bersih. Dia hanya perlu menteri bersih, berintegritas, dan visioner. Itu sudah ditunjukkan pendahulu Imam, dari Abdul Gafur hingga Roy Suryo, kecuali Andi Mallarangeng.

Mereka selamat karena salah satu alasan yang kuat: berintegritas kuat. Demi integritas itu, sebagian di antara menteri-menteri itu, siap “dimusuhi” orang-orang di kementerian itu. Setidaknya, Roy Suryo mengungkapkan pengalamannya seperti itu.

Kementerian Pemuda dan Olahraga itu kementerian yang cukup penting, tapi tak terurus dengan baik. Sangat jarang presiden menempatkan orang yang pas di posisi ini. Kebanyakan politisi yang tak punya konsep apa-apa tentang –terutama—olahraga. Imam pun tidak punya.

Salah satu “dosa” Imam Nahrawi adalah cawe-cawe urusan PSSI. Karena tindakannya PSSI pernah diskorsing FIFA. Dia bertikai dengan La Nyalla Mattaliti, Ketua Umum PSSI yang terpilih lewat kongres yang sah saat itu.

Tata kelola Kemenpora juga buruk. Tahun 2016, di era Imam Nahrawi, Kemenpora dapat opini disclaimer dari BPK. Saat itu, Kemenpora menyalahkan menteri-menteri sebelum Imam Nahrawi sebagai penyebabnya, termasuk Roy Suryo.

Tata kelola yang buruk itu, faktanya, juga diakui KPK dan Roy Suryo. KPK menyebut soal aset, termasuk peralatan pertandingan olahraga yang baru datang setelah pesta usai.

Roy Suryo pastinya tahu lebih dalam. Dia menyebut oknum-oknum di dalam kementerian yang biasa bermain. Termasuk mempermainkan dana hibah.

Apa yang disampaikan Roy Suryo, rasa-rasanya, bukan isapan jempol. Ada dugaan urusan komisi, termasuk komisi proyek, jadi hal biasa di lembaga ini. Ini pun sebenarnya sudah jadi rahasia umum.

Itu sebabnya, kita menyebutkan menjadi Menpora tak cukup baik dan bersih, melainkan juga berintegritas dan visioner. Berintegritas agar tak ikut bermain komisi-komisian, punya visi agar pemuda dan olahraga tak lagi melempem, tak seperti saat ini yang nyaris selalu kalah di mana-mana.

Maka, pemenuhan syarat semacam itu, yang kita sarankan kepada Presiden Jokowi untuk menunjuk Menteri Pemuda dan Olahraga periode berikutnya. Kita ragu ada politisi yang memilikinya. Karena itu, buat kita, lebih baik menempatkan teknokrat di sana ketimbang politisi, apalagi politisi tanpa integritas. (*)
 

Loading...