Pelebaran Sungai? Di Kota Bandung Harus!

Pelebaran Sungai? Di Kota Bandung Harus!
Kepala Bidang Pemeliharaan DPU Kota Bandung, Tedi Setiadi
INILAH, Bandung - Kota Bandung perlu melakukan langkah jangka panjang agar masalah banjir tak terus berulang. 
 
Salah satu langkah yang diyakini bisa menanggulangi masalah banjir, yakni melakukan pelebaran sungai di hampir seluruh sungai di Kota Bandung.
 
Menurut analisa Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota Bandung, penyempitan sungai terjadi di mana-mana, salah satunya di Sungai Citepus. Sungai yang seharusnya memiliki lebar 6 meter itu kini hanya selebar 3,5 meter saja.
 
"Kondisi ini tak hanya terjadi di satu titik. Ada 27 dari 46 sungai dan anak sungai di Kota Bandung yang terbilang kritis dan perlu diberi perhatian," kata Kepala Bidang Pemeliharaan DPU Kota Bandung, Tedi Setiadi pada Bandung Menjawab di Taman Dewi Sartika Balai Kota
Bandung, Kamis (29/11/2018).
 
Namun, ungkap Tedi, pelebaran sungai itu nyatanya bukan perkara mudah. Masalahnya, bibir-bibir sungai di Kota Bandung, khsusunya yang melewati wilayah perkotaan, sudah dipadati bangunan penduduk. Baik rumah maupun bangunan pribadi yang tak lagi mementingkan aspek
lingkungan.
 
Menurut Tedi, berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Nomor 28 Tahun 2015, garis sempadan pada sungai tidak bertanggul di dalam kawasan perkotaan sekurang-kurangnya berjarak 10 meter dari tepi kiri dan kanan palung sungai sepanjang alur sungai, dalam hal kedalaman sungai kurang dari atau sama dengan tiga meter. Sementara itu, kini jarak antara bibir sungai dengan bangunan hampir tidak ada.
 
"Kalau di Kota Bandung bahkan 0 meter. Bibir sungai itu langsung pondasi bangunan warga," tegas Tedi.
 
Maka dari itu, kata Tedi, butuh upaya lebih untuk mengedukasi warga agar berkenan mendukung program pelebaran sungai. Ini juga membutuhkan musyawarah dan koordinasi dengan berbagai pihak.
 
"Tentu ini harus dikoordinasikan. Kalau tidak ada pelebaran sungai, kita kan ada berbagai upaya. Ada kolam retensi, perbaikan TPT (Tembok Penahan Tanah), pengerukan sungai, dan pengerukan sedimen. Sehingga biasanya (banjir) tidak lebih dari 2 jam sudah ada upaya," ujar Tedi.
 
Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum juga mendukung rencana pelebaran sungai. Kepala Bidang Pelaksanaan Jaringan Sumber Air BBWS Citarum, Suwarno mengatakan, hal itu merupakan kebutuhan yang harus dilaksanakan.
 
"Kalau menurut analisa BBWS waktu itu untuk di Citepus memang harus ada pelebaran sungai. Karena sungai di Citepus itu dari belokan tempat sampah dimensinya lebar, itu 5 meter. Tapi masuk ke Jalan Pagarsih cuma 3,5 meter," tutur Suwarno.
 
Suwarno menyadari bahwa pelebaran sungai bukan perkara mudah. Ia mengaku bahwa BBWS juga sudah memiliki solusi sementara untuk permasalahan ini.
 
"Desain dari Balai itu kita akan melebarkan sungai dengan membuat lubang di bawah Jalan Pagarsih. Jadi atasnya bisa dipakai. Digerowongin lah. Panjangnya 200 meter sampai jembatan," jelas Suwarno.
 
Di sisi lain, Suwarno menilai datangnya banjir di wilayah Kota Bandung juga disebabkan adanya faktor kerusakan lingkungan di wilayah hulu. Hal itu menyebabkan kurangnya daya tangkapan air sehingga air yang turun ke hilir menjadi melimpah.
 
"Karena dari pengamatan balai, kita kan punya pos curah hujan, itu hujannya kecil. Kemarin cuma sekitar 50mm, banjirnya sudah luar biasa. Dan banjir itu nggak lama, prosesnya itu sejam dua jam. Setelah itu langsung surut," ujarnya.* humas.bandung.go.id
 

Loading...