Soal Pedestarian, Pemkot Bogor Siap Akomodir Warga

Soal Pedestarian, Pemkot Bogor Siap Akomodir Warga
Wali Kota Bogor Bima Arya (kanan) saat menemui warga yang tergabung dalam Sekretariat Pagoejoeban Kampung Tengah (Sepakat). (Rizki Mauludi)

INILAH, Bogor - Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto akhirnya terjun ke lapangan menemui warga yang tergabung dalam Sekretariat Pagoejoeban Kampung Tengah (Sepakat). Dia menyatakan siap mengakomodir aspirasi warga terkait desain pedestrian Jalan Suryakancana, Kecamatan Bogor Tengah.

Dari pertemuan tersebut, Bima mengaku sudah mencapai kesepakatan dengan warga mengenai desain dari proyek senilai Rp14 miliar itu. 

"Sudah ada titik temu. Jadi untuk ukuran jalan ditambah 0,5 meter, (trotoar) tidak 3,5 meter. 0,5 meter itu karena kita perlu untuk membuat Penerangan Jalan Umum (PJU)," ungkap Bima kepada wartawan akhir pekan ini.

Bima melanjutkan, mengenai fasilitas parkir kendaraan nanti apakah diterapkan formasi serong atau pararel menunggu hasil simulasi yang dilaksanakan setelah pembangunan selesai. Terkait ini, sikap pemerintah akan menyesuaikan diri saja.

"Kalau kami fleksibel, boleh serong atau pararel tergantung simulasi nanti. Untuk konsepnya tetap tidak ada sirip Naga dan celukan. Trotoar eksisting ditambah 0,5 meter jadi 3 meter," tambahnya.

Bima menjelaskan, dengan adanya perubahan ukuran itu dimungkinkan terjadi perubahan desain. Walau tak secara detail, dirinya juga menegaskan bahwa proyek yang dibiayai APBD 2019 tersebut tengah proses pekerjaan oleh PT. Pulau Biru Ansor. 

"Pengerjaan akan segera dimulai," ujarnya.

Sementara itu, Koordinator Sepakat, Mardi Lim cukup mengapresiasi solusi yang telah disepakati oleh kedua belah pihak. Pertemuan ini juga dihadiri Ketua DPC PDI Perjuangan Dadang Iskandar Danubrata dan anggota DPRD dari Fraksi PDI Perjuangan Atty Somaddikarya serta jajaran dinas terkait.

"Wali Kota Bogor Bima Arya sudah memastikan akan mengakomodir keinginan kami, salahsatunya untuk lebar trotoar diubah menjadi 2,5 meter dari awalnya 3,5 meter bahkan ada 4 meter dibeberapa titik karena mengacu pada lebar ruas jalan nanti 7 meter," terangnya.

Mardi melanjutkan, tetapi untuk usulan warga terhadap fasilitas parkir yang dibuat menyerupai sirip naga sebagai ciri khas kawasan untuk menarik dikunjungi, seandainya dianggap membahayakan secara fisik dan pengendara kajian dari Dinas PUPR dan Dishub maka warga membuka ruang untuk diubah dari 3 dimensi menjadi 2 dimensi bentuk gambar atau warna. 

"Sebenarnya tujuan dari ini untuk memandu para pengendara parkir serong," tambahnya.

Mardi berharap, simulasi dapat dilaksanakan dalam waktu dekat untuk menentukan formasi parkir serong atau paralel termasuk penyesuaian akses keluar masuk nanti bagi warga. 

"Kami harapkan berbagai perubahan ini nanti bisa diperiksa kembali bersama-sama dan ditandatangani sebagai kesepakatan," harapnya.

Ketika disinggung soal 18 celukan di beberapa titik di kawasan tersebut, Mardi menjelaskan, bahwa dalam pertemuan memang tidak mengemukakan secara frontal. 

"Namun terkait ini ada isyarat 'lampu hijau' dari wali kota untuk warga berkolaborasi dengan Dishub bersama-sama mencari solusi terbaik," jelasnya.

Terpisah, Atty Somaddikarya mengatakan, sebagai wakil rakyat ia sudah menyampaikan seluruh aspirasi warga kepada wali kota dan jajarannya agar ditampung dan ditemukan jalan terbaik untuk seluruh masyarakat.

"Sudah disampaikan aspirasinya dan dikembalikan lagi hasilnya seperti apa, yang penting tidak merugikan warga setempat atas revitalisasi dengan anggaran Rp14,2 miliar serta harus saling menguntungkan. Untuk apa menjadi kota hebat jika sebagai rakyat tidak menikmati, setiap pembangunan pasti ada pro kontra tapi harus mampu di selesaikan secara musyawarah dengan catatan tidak menabrak regulasi atau aturan yang ada," tegasnya.

Atty juga mengatakan, bahwa setiap pembangunan harus dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat.

"Intinya pemerintah dan dewan harus mampu  menyelesaikannya dengan musyawarah. Tentunya itu tadi dengan tidak menabrak regulasi," pungkasnya. (Rizki Mauludi)