Hakikat Sabar

Hakikat Sabar
Ilustrasi/Net

SAUDARAKU, dalam sebuah keterangan, Ibnu Qayyim menjelaskan, “Kedudukan sabar di dalam iman adalah laksana kedudukan kepala bagi seluruh tubuh. Apabila kepala sudah terputus, maka tidak ada lagi kehidupan bagi seluruh tubuh.” 

Jadi, sabar adalah bagian penting untuk keimanan. Seperti disebutkan dalam keterangan di atas, arti penting kesabaran bagi keimanan adalah seperti arti penting kepala bagi tubuh. Ketika seseorang kehilangan kesabaran dalam menjalankan ketaatan, dalam menjauhi segala yang dilarang, dan dalam menghadapi berbagai cobaan, maka sesungguhnya ia banyak kehilangan bagian-bagian dari keimanan. 

Sabar merupakan istilah yang berasal dari bahasa Arab. Istilah sabar sudah menjadi istilah dalam bahasa Indonesia. Asal kata sabar adalah dari kata “Shabara”, Yasbhiru” “Shabran”. Dari segi bahasa, sabar berarti menahan dan mencegah. 

Ibnu al-Qayyim menerangkan bahwa sabar adalah menahan diri untuk tidak memperturut hawa nafsu, mengendalikan lisan dari berkeluh kesah, dan mengendalikan anggota tubuh dari berbuat kemaksiatan.

Firman Allah SWT yang menguatkan pengertian ini adalah ayat yang berbunyi, “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (QS. al-Kahfi [18]: 28) 

Perintah Allah untuk bersabar pada ayat ini adalah perintah untuk menahan diri dari keingingan untuk keluar dari barisan orang-orang yang menyembah-Nya, serta selalu mengharap keridaan-Nya. Perintah sabar ini sekaligus juga sebagai pencegahan terhadap keinginan manusia untuk berada dengan orang-orang yang lalai dalam mengingat Allah.

Ada pun pengertian sabar secara istilah adalah kokohnya pendirian seseorang untuk tetap berada di jalan kebenaran, tanpa terpengaruh oleh situasi dan kondisi apa pun. Pikirannya tidak tercemar untuk menuruti ajakan hawa nafsunya. Jiwanya menolak untuk berputus asa. 

Lidahnya tidak berkeluh kesah kecuali mengadu hanya kepada Allah semata. Sedangkan anggota badannya, bisa ia tahan dari melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak diridai oleh Allah. Hatinya tidak merasa gelisah, melainkan selalu berada di dalam keimanan. Sedangkan kebalikan dari sabar adalah gelisah, tergesa-gesa, pesimis, takut, putus asa, lemah dan mudah menyerah. Dari pengertian di atas, Allah SWT menegaskan kembali di dalam al-Quran mengenai gambaran orang yang bersabar melalui firman-Nya, “...Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah. Allah menyukai orang-orang yang sabar.” (QS. Ali Imran [3]: 146)

Dalam ayat ini, setidaknya ada tiga kriteria seseorang telah bersabar. Pertama, tidak lemah mental atau tidak menjadi penakut (maa wahanuu). Yaitu, ketika ia berhadapan dengan suatu situasi yang sulit seperti kesulitan ekonomi atau kesulitan lainnya, itu tidak membuatnya menjadi putus asa dan menyerah kepada keadaan. Melainkan ia memiliki daya kontrol yang baik terhadap dirinya sendiri. Ia mau tetap bertahan dan bangkit untuk meraih kondisi yang lebih baik. 

Kedua, tidak lesu atau murung (maa dha’afuu). Seseorang yang sabar pantang untuk menampakkan kesedihan atau kesulitan yang dihadapinya di hadapan orang lain. Seseorang yang sabar tidak akan memperlihatkan kemurungan di wajahnya sesulit apa pun masalah yang ia dihadapi. Ia tidak akan membiarkan orang lain turut risau karena melihat kemurungan dirinya. Jika pun ia harus mengekspresikan kelemahan dirinya dalam menghadapi suatu persoalan, kesulitan atau kesedihan, maka ia ungkapkan hanya kepada Allah melalui sujud-sujudnya pada salat malam. 

Ketiga, tidak menyerah, tidak pasrah (maastakaanuu). Seseorang yang memiliki kesabaran tidak akan tenggelam di dalam kesedihan. Sebaliknya, ia justru bersikap pantang menyerah dan optimis bahwa ia bisa meraih pencapaian yang lebih baik lagi. Ia memiliki keyakinan kuat bahwa kesedihan, kesulitan atau persoalan yang ia hadapi hanyalah secuil ujian yang perlu ia hadapi dengan lapang dada. Ia juga memiliki keteguhan hati bahwa ada Allah yang akan menjadi Penolong bagi dirinya. Ketika ia menghadapi suatu kegagalan pada hari ini, maka ia mencobanya esok hari dengan lebih baik lagi. Usaha sebaik mungkin dan doa tiada henti, itulah yang ia lakukan. 

Ibnu Katsir menerangkan bahwa sabar ada tiga macam. Pertama, sabar dalam meninggalkan urusan haram dan dosa. Kedua, sabar dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT. Kesabaran yang kedua adalah yang paling besar pahalanya, karena memiliki nilai yang hakiki. Ketiga, yaitu sabar dalam menghadapi bencana, yaitu tidak berkeluh kesah dan tidak berputus asa saat mengalami musibah, melainkan semakin mendekat dan memohon ampunan kepada Allah SWT.

Ada satu kisah di dalam sejarah kehidupan Rasululah saw. Suatu ketika, Rasulullah melintasi sebuah kawasan perkuburan. Di sana beliau melihat seorang ibu yang sedang menangis tersedu-sedu sambil menutup mukanya di atas pusara kuburan anaknya yang baru saja dimakamkan. Kemudian, beliau menghampiri ibu tersebut dan berkata kepadanya, “Wahai ibu, bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah.” 

Ibu itu kemudian menjawab, “Engkau tak tahu apa yang aku rasakan!” 

Lalu, Rasulullah pun meninggalkannya. Salah seorang sahabat yang bersama Rasulullah dan menyaksikan peristiwa tersebut berkata kepada ibu tadi, “Apakah engkau tahu siapa yang berbicara denganmu tadi? Beliau adalah Rasulullah saw!”

Betapa terkejutnya ibu itu. Lalu, dengan bergegas ia mengejar Rasulullah saw dan memohon maaf atas sikapnya tadi. Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya kesabaran yang sejati adalah pada saat pertama kali seseorang terkena suatu musibah!” (HR. Bukhari).

(KH Abdullah Gymnastiar)
 

Loading...