Kasus Kekerasan Perempuan dan Anak di Karawang Memprihatinkan

Kasus Kekerasan Perempuan dan Anak di Karawang Memprihatinkan

INILAH, Karawang – Kasus kekerasan yang menimpa perempuan dan anak cukup memprihatinkan di Kabupaten Karawang. Bahkan, hampir setiap tahunnya jumlah korban kekerasan ini terus mengalami peningkatan.

Sekretaris Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kabupaten Karawang, Amid Mulyana membenarkan terkait hal tersebut. Pihaknya melansir, dalam kurun waktu tiga tahun terakhir jumlah kasus ini terus mengalami peningkatan.

“Kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di wilayah kami masih cukup tinggi,” ujar Amid kepada wartawan, Selasa (1/10/2019).

Dari data yang ada di instansinya, kata Amid, tercatat di 2017 lalu ada 42 kasus kekerasan yang menimpa anak dan perempuan. Dari 42 kasus ini, terdiri dari 19 kasus terhadap perempuan. Sisanya, 23 kasus terhadap anak-anak. 

Kemudian, sambung dia, di 2018 kejadian kekerasan terhadap perempuan dan anak-anak mencapai 58 kasus. Terdiri dari, 29 kasus terhadap perempuan. Serta, 29 kasus lagi menimpa anak-anak. Sama halnya dengan kasus 2017, kekerasa yang dialami anak dan perempuan ini meliputi kekerasan fisik, psikis, seksual, penelantaran dan lain-lain.

Di 2019 ini, kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak justru tidak mengalami penurunan. Alias, kasusnya masih cukup tinggi. Mengingat, dari Januari hingga Agustus kemarin, tercatat ada 43 kasus kekerasan yang menimpa kaum perempuan dan anak-anak itu. Data tersebut diketahui, dari warga yang melaporkan.

“Syukur, saat ini korban semakin terbuka. Dulu, perempuan yang mengalami kekerasan, malu untuk melaporkannya,” jelas dia.

Atas dasar itu pula, lanjut dia, pemerintah berupaya untuk meminimalisasi kasus ini. Dalam hal ini, pemkab setempat menggandeng swasta membangun rumah perlindungan pekerja perempuan (RP3).

Terlebih, perempuan yang mengalami kekerasan ini di antaranya adalah buruh pabrik. Karena itu, lanjut Amid, pemkab bersama swasta mendirikan fasilitas layanan kekerasan. Atau rumah perlindungan pekerja perempuan (RP3).

“Dengan adanya fasilitas ini, diharapkan masyarakat bisa teredukasi. Sehingga, kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan ini bisa terminimalisasi,” tambah dia. (asep Mulyana)

Loading...