Dedie Pilih Realisasikan Trem dengan 'Senyap'

Dedie Pilih Realisasikan Trem dengan 'Senyap'
Wakil Wali Kota Bogor Dedie A Rachim. (Rizki Mauludi)

INILAH, Bogor- Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor masih menunggu hasil kajian dan perhitungan soal program trem yang akan diterapkan. Di sisi lain, Wakil Wali Kota Bogor Dedie A Rachim diam-diam terus berjuang merealisasikan angkutan massal tanpa polusi tersebut.

Dedie mengatakan, atase perhubungan Indonesia di Belanda bersama pihak konsultan sedang melakukan perhitungan biaya pengiriman dan asuransi handling sampai ke Indonesia.

"Akan tetapi kalaupun trem dari Belanda ini kami terima, leading sektornya atau executing agency nya adalah Pemerintah pusat. Jadi kami menunggu untuk trem dari Belanda," ungkap Dedie.

Menurutnya, Kota Bogor merupakan end user dari program hibah Belanda. "Tetapi kami tengah menyiapkan skenario alternatifnya," tambahnya.

Saat disinggung bahwa trem sudah tua, dan nyinyiran berbagai pihak soal trem, Dedie enggan menanggapi.

"Ya tidak usah ditanggapi. Karena kan ada unsur masalah polusi udara, kehandalan, teknologi dan masa depan yang merupakan aspek harus dipikirkan," tuturnya.

Dedie juga mengaku, setelah adanya trem, pastinya ada pengurangan kendaraan pribadi yanh direncanakan setelah adanya kajian trem, karena perkiraan realisasin trem masih cukup lama. 

"Yang terpenting saat ini, nomor satu kelayakan teknis. Saya meminta media mendukung kemajuan ini, jangan dijadikan polemiklah. Jangan dijadikan diskusi. Media sudah dukunglah, kami tidak ada kepentingan pribadi," tutur Dedie.

Saat ditanya soal trem made in Indonesia, Dedie menegaskan, bahwa adanya trem made on tanah air, salah satu pertimbangan sehingga nanti akan dikaji dan dipelajari. Karena Wali Kota Bogor Bima Arya bersama pimpinan DPRD Kota Bogor akan berkunjung juga ke PT INKA.

"Untuk melihat, gambaran biaya akhir tahun baru keliatan, meskipun ada poin-poin biaya belum ke sana. Pelan-pelan, tau-tau jadi saja.  Demi anak cucu kita kedepan. Bogor lebih baik, Bogor modern dan Bogor yang hebat. Kita harus mau berfikir melakukan perubahan-perubahan," pungkasnya. (Rizki Mauludi)