Bupati Anne Keukeuh Minta PT MSS Ditutup

Bupati Anne Keukeuh Minta PT MSS Ditutup
Foto: Asep Mulyana

INILAH, Purwakarta – Bupati Purwakarta Anne Ratna Mustika menemukan kejanggalan saat melihat langsung kondisi rumah yang rusak tertimpa batu besar di Kampung Cihandeuleum, Desa Sukamulya, Kecamatan Tegalwaru.

Saat berkunjung ke lokasi kejadian, dia mengamati jika batu besar yang menimpa rumah warga ini bukan batu yang lepas dan jatuh dari tebing akibat getaran. Tapi, disinyalir merupakan batu dari pecahan saat proses peledakan atau blasting.

“Ini bukan batu yang lepas dari tebing. Kalau itu murni jatuh, harusnya ada bekas awal batu itu berada. Kemudian, kondisi batu pun harusnya utuh. Di sinyalir, ini ada kelalaian saat proses blasting,” ujar Anne dengan nada geram, Kamis (10/10/2019).

Dia menyebutkan, pagi tadi pihaknya juga bertemu dengan pihak perusahaan tambang PT Mandiri Sejahtera Sentra (MSS). Dia menegaskan, kalau nantinya terbukti batu yang menimpa rumah itu loncatan dari peledakan maka jelas itu merupakan kesalahan fatal.

“Kami telah membentuk tim terpadu untuk mencari tahu penyebab pasti batu itu jatuh. Apakah itu murni jatuh, atau pecahan dari proses blasting,” jelasnya.

Pihaknya pun mendesak agar perusahaan tersebut segera bertanggung jawab untuk memperbaiki rumah warga yang rusak. Selain itu, pihaknya pun akan mendesak Pemprov Jabar melalui Dinas ESDM agar mencabut izin pertambangan tersebut.

“Kami juga telah menginstruksikan DLH untuk membekukan rekomendasi Amdal kepada perusahaan tersebut,” tegasnya.

Saat ini, pihaknya masih menunggu jawaban dari PT MSS terkait pertanggungjawabannya kepada masyarakat. Kalau sampai hari ini belum ada jawaban pihaknya akan segera melayangkan surat ke pemprov untuk pencabutan izin usahanya.

“Daripada warga di sana harus direlokasi, saya lebih sepakat jika izin tambang batu itu dicabut saja,” sebutnya.

Permintaannya itu bukan tanpa alasan. Terlebih, di lokasi dirinya banyak menerima curhatan warga yang meminta supaya tambang batu itu ditutup saja. Di samping itu, keberadaan tambang batu tersebut lebih banyak mudaratnya ketimbang manfaatnya.

“Dari segi pendapatan daerah saja, keberadaannya tidak terlalu manfaat. Bayangkan, PAD yang ditarik dari hasil tambang perusahaan tersebut setahun hanya Rp1,5 miliar. Sedangkan, pengeluaran pemda untuk memperbaiki akses jalan mereka lebih dari segitu,” pungkasnya. (Asep Mulyana)

Loading...