Masuk Penghujan, Petani Diimbau Waspadai Serangan OPT

Masuk Penghujan, Petani Diimbau Waspadai Serangan OPT
Foto: INILAH/Zainulmukhtar

INILAH, Garut – Memasuki pergantian musim kemarau ke musim hujan, Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Garut menghimbau masyarakat petani di Kabupaten Garut mewaspadai dini dengan melakukan pengamatan terhadap kemungkinan adanya serangan berbagai jenis organisasi pengganggu tanaman (OPT) yang menyerang tanaman.

Hal itu guna menghindari merebaknya serangan OPT yang dapat menyebabkan rusaknya tanaman. Sehingga merugikan petani sendiri.

Pasalnya, terdapat beberapa jenis OPT yang secara alami memang berkembang biak pada peralihan musim. Baik pergantian musim kemarau ke musim hujan maupun sebaliknya dari musim hujan ke kemarau.

“Kalau informasi BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika), musim hujan dengan hujan normal diperkirakan mulai minggu pertama Nopember. Sekarang memang sudah mulai masuk pergantian musim. Dalam sepekan terakhir ini turun hujan lokal, tapi belum merata. Sedangkan ada beberapa OPT yang berkembang biak saat pergantian musim. Makanya, petani mesti melakukan pengamatan dini terhadap OPT ini,” kata Sekretaris Distan Haeruman didampingi Kepala Seksi Serelia Endang Junaedi, Selasa (15/10/2019).

Endang menyebutkan, himbauan terhadap petani menghadapi pergantian musim biasa dilakukan Pemkab Garut. Hal itu dilakukan melalui edaran Bupati Garut kepada para camat, dan Kepala Distan ke jajaran Unit Pelaksana Teknis (UPT) di lingkungan Distan. Termasuk mengenai anjuran pemanfaatan sumber air, pola tanam, dan agar petani melakukan normalisasi saluran supaya tidak mampat, atau banjir ketika musim hujan datang.

Menurut Endang, menghadapi peralihan musim ke musim hujan sekarang, pihak Distan sendiri telah menyiagakan brigade atau cadangan pestisida bagi petani yang tanamannya mengalami serangan OPT, dan cadangan benih padi sebagai bantuan bagi petani terdampak kekeringan.

Untuk kebutuhan tersebut, saat ini tersedia sebanyak 2.000 liter obat pestisida, dan bantuan benih padi direncanakan sebanyak 70 ton dengan sumber dana dari APBD Garut murni, dan perubahan Tahun Anggaran 2019.

“Kita berharap petani bisa melakukan pengamatan dini terhadap OPT, dan pro aktif melapor ke petugas. Jangan sampai baru melapor ketika tanamannya sudah rusak parah akibat merebaknya OPT. Sebab petugas kita di lapangan juga jumlahnya terbatas dibandingkan luas wilayah bertugas,” ingat Endang.

Banyak petani di Kabupaten Garut kehilangan produksi padi akibat gagal panen karena lahan sawah mengalami kekeringan, serangan organisme pengganggu

Serangan OPT memperparah hilangnya produksi pertanian khususnya padi di sejumlah daerah di Garut pada musim kemarau 2019. OPT paling menonjol terutama hama tikus, penggerek batang, dan wereng coklat.

Hingga per 15 September 2019, produksi padi yang hilang akibat serangan hama tikus terhadap seluas 135 hektare tanaman padi tersebar di 20 kecamatan di Garut mencapai sebanyak 119.900 kilogram gabah kering giling (GKG), setara Rp659.451.000.

OPT hama penggerek batang menyerang tanaman padi di lahan sawah seluas 154 hektare tersebar di 25 kecamatan, dengan intensitas kerusakan ringan. Sedangkan wereng coklat menyerang 17 hektare lahan sawah tersebar di dua kecamatan.

“Upaya paling efektif mencegah merebaknya serangan OPT sebenarnya bisa dilakukan dengan melakukan pola tanam yang teratur. Idealnya, pengolahan sawah itu setelah ditanami padi maka musim tanam berikutnya ditanami palawiji. Setelah itu baru ditanami padi lagi. Cara tersebut bisa memutus perkembangan OPT,’ ujarnya. (Zainulmukhtar)

Loading...