Tekan Produksi Sampah, Purwakarta Optimalkan Peran Bank Sampah

Tekan Produksi Sampah, Purwakarta Optimalkan Peran Bank Sampah
Foto: Asep Mulyana

INILAH, Purwakarta – Pemkab Purwakarta akan mengoptimalkan peran bank sampah untuk menekan produksi sampah dari masyarakat sebelum dibuang ke TPA Cikolotok, Desa Margasari, Kecamatan Pasawahan.

Bupati Purwakarta Anne Ratna Mustika menuturkan, selama ini sampah yang dibuang ke TPA Cikolotok masih bersifat campuran, antara sampah organik dan anorganik. Padahal, menurutnya, jika masyarakat jeli sampah tersebut bisa dikelola bahkan bisa bernilai ekonomis.

“Sejauh ini, keberadaan sampah belum termanfaatkan dengan baik. Padahal, ini bisa dikelola dengan baik sehingga bernilai ekonomis,” ujar Anne kepada INILAH, Rabu (16/10/2019).

Untuk itu, sambung dia, ke depan pihaknya akan mengoptimalkan peran bank sampah. Ini dilakukan agar sampah yang dibuang bisa dimanfaatkan kembali. Tujuan lainnya, tentu untuk menekan produksi sampah yang ada.

Dia menjelaskan, sampai saat ini produksi sampah di wilayahnya masih didominasi sampah rumah tangga atau domestik. Jika di persentasikan, 60% sampah yang dibuang ke TPA ini merupakan hasil konsumsi rumah tangga. Sisanya, 40% sampah itu berasal dari industri.

Menurut dia, pengelolaan sampah itu harus dimulai dari bawah (rumah tangga). Makanya, kedepan, pihaknya akan mendorong masyarakat supaya memilah dulu sampah yang akan dibuangnya. Sampah tersebut, harus dipisahkan antara yang organik dan anorganiknya.

“Jadi, sebelum dibuang sampah tersebut harus dipisahkan dulu, mana yang organik mana yang anorganik,” jelas dia.

Nantinya, sambung dia, sampah yang sudah terkumpul dan terpisah ini ditabung di pengelola bank sampah. Kemudian, pihak pengelola akan mengolah sampah yang organik untuk jadi kompos. Kemudian yang anorganik, semilas plastik akan dikelola untuk didaur ulang kemudian dijual.

Anne berpendapat, selain membantu meminimalisasi produksi sampah, konsep bank sampah ini juga turut membantu perekonomian warga. Sehingga, sampah yang dihasilkan memiliki nilai manfaat.

Dia menambahkan, saat ini baru ada lima bank sampah di wilayahnya. Para pengelola bank sampah ini, baru tersebar di wilayah perkotaan. Oleh karenanya, ia ingin ke depannya bank sampah bisa menjadi alternatif masyarakat mendapatkan tambahan penghasilan.

“Kita dorong, kedepan setiap kecamatan punya satu bank sampah. Jadi, selain bisa menekan produksi sampah, hal ini juga turut membantu perekonomian warga,” tambah dia.

Sehari sebelumnya, bupati perempuan pertama yang memimpin Purwakarta itu juga menggulirkan sebuah kebijakan terkait lingkungan. Kebijakan kali ini, wajib dijalankan oleh seluruh pegawai di lingkungan pemerintahan.

Dalam kebijakan yang tertuang dalam surat edaran nomor 658.1/3419/BKPSDM itu salah satu poin pentingnya, yakni mengintruksikan supaya seluruh kantor OPD, Kecamatan dan kelurahan/desa yang ada untuk menyediakan tempat sampah organik dan non organik.

Surat edaran ini, merupakan implementasi dari UU Nomor 18/2018 tentang pengelolaan sampah. Jadi, ke depan seluruh OPD dan perangkat pemerintahan yang ada wajib menyediakan tempat pengelolaan sampahnya sendiri. Sehingga, produksi sampah di masing-masing OPD tak lagi diambil dan dibuang ke TPA.

“Teknisnya, sampah yang ada di sekitar OPD itu harus dikelola sendiri, mana yang organik mana yang nonorganik. Nantinya, yang organik harus diolah sendiri menjadi pupuk, sedangkan yang nonorganik bisa dikelola atau dikerjasamakan dengan pelaku bank sampah. Prinsipnya reduce, reuse dan recycle,” pungkasnya. (Asep Mulyana)

Loading...