Karpet Merah untuk Presiden Rusia di Saudi

Karpet Merah untuk Presiden Rusia di Saudi
Foto: Net

INILAH, Riyadh – Tidak pernah terpikirkan sebelumnya: karpet merah digelar di Riyadh untuk pemimpin Rusia.

Apalagi warga Arab Saudi kerap menjuluki orang-orang Uni Soviet sebagai "komunis tak bertuhan" pada masa Perang Dingin.

Tapi zaman sudah berubah. Pekan ini tentara Saudi melepaskan tembakan salvo 21 kali sebagai penghormatan kepada Presiden Rusia, Vladimir Putin, yang datang berkunjung ke Riyadh.

Kedatangannya, yang disambut raja dan putra mahkota Saudi dengan berjabat tangan erat, membawa sejumlah kesepakatan bilateral.

Tak hanya itu, lawatan Putin membuat kajian strategis Timur Tengah harus dikalibrasi ulang mengingat Saudi sejak lama bersekutu dengan Amerika Serikat.

Seberapa dalam kedekatan Arab Saudi dengan Rusia dan mengapa?

Untuk pertama kalinya dalam 12 tahun, Presiden Putin bertandang ke Arab Saudi. Dalam lawatannya yang langka ini, dia membawa delegasi besar yang terdiri dari para pejabat perdagangan, keamanan, dan pertahanan.

Lebih dari 20 kesepakatan bilateral Rusia-Saudi senilai uS$ 2 miliar (Rp 28,3 triliun) ditandatangani dan diumumkan Dana Investasi Langsung Rusia (RDIF) kemudian. Antara lain:
- Perusahaan minyak negara Saudi, Aramco, membeli 30% saham Novomet, pemasok peralatan minyak Rusia.

- Arab Saudi menanam modal sebesar US$600 juta (Rp8,5 triliun) pada bisnis penyewaan pesawat Rusia

- Penjajakan kerja sama antara perusahaan gas alam Rusia, Gazprom, dengan perusahaan-perusahaan Saudi.

Kerja sama kedua negara tidak terbatas pada kesempatan itu. Pemerintah Saudi mengundang pemerintah Rusia untuk berpartisipasi dalam penyelidikan serangan rudal dan drone terhadap berbagai fasilitas minyak Saudi pada 14 September lalu.

Diskusi pertahanan kedua negara mencakup kemungkinan pembelian dan penempatan sistem pertahanan rudal udara buatan Rusia, S-400. Jika ini terjadi, Washington DC dinilai bakal mengalami pukulan telak.

Baru-baru ini AS mencoret Turki dari program pengadaan pesawat tempur F-35 setelah negara itu membeli S-400 dari Rusia.

Kesepakatan dagang bilateral antara Riyadh dan Moskow terus berakselerasi sejak kesepakatan pada Juni 2018 dan kerja sama terkini dalam menahan pasokan minyak dunia guna menjaga kestabilan harga.

Semua bentuk kerja sama ini merupakan penanda signifikan bahwa hubungan Saudi menghangat dengan Rusia. (INILAHCOM)

Loading...