Sengketa Hak Waris Tanah, Keponakan Gugat Paman

Sengketa Hak Waris Tanah, Keponakan Gugat Paman
(Foto: Reza Zurifwan)

INILAH, Bogor - Karena dianggap menjual tanah waris tanpa persetujuan salah satu ahli warisnya, yaitu Sukria, akhirnya Agus Bin Sukria menggugat pamannya, Kujay Jayadi ke Pengadilan Negeri (PN) Kelas I A Cibinong.

Pengacara Agus Bin Sukria bernama Victor Harianja yang ditemui usai persidangan setempat di Jalan Raya Pemda, Keluarahan Sukahati, Cibinong, mengatakan perselisihan kepemilikan tanah ini berawal dari penjualan yang diduga dilakukan tergugat II Kujay Jayadi dengan menjual tanah kliennya kepada tergugat I Mualimah.

“Tanah waris milik orang tua Sukria dan Kujay Jayadi ini telah dijual sepihak tergugat II Kujay  ke pihak tergugat I Mualimah. Karena tanah ini bukan hanya dimiliki oleh Kujay, kami menggugat mereka ke PN I Cibinong,” kata Victor kepada wartawan, Jumat (17/10).

Ia menambahkan jual beli yang dilakukan Kujay Jayadi ke Mualimah dengan bantuan tergugat III Muslim tidak sah hingga ia meminta majelis hakim untuk membatalkan sertifikat hak milik (SHM) atas nama Mualimah atau tergugat I.

“Kami menggugat mereka secara perdata karena klien kami Agus bin Sukria masih memiliki lahan sengketa ini dengan bukti surat girik. Proses jual beli diduga tidak sah karena pihak klien kami tidak pernah melakukan jual beli tanah dengan pihak tergugat I,” tambahnya.

Di tempat yang sama, Kujay Jayadi enggan berkomentar terkait gugatan perdata keponakannya itu. Secara singkat ia menuturkan proses jual beli tanah dirinya dengan Mualimah tidak bisa digugat.

“Proses jual beli tanah dengan Hj Mualimah tidak bisa digugat karena saya termasuk ahli waris,” singkat Kujay.
Sementara di waktu persidangan setempat, majelis hakim dari PN I Cibinong hanya mengecek lokasi sengketa, luas sebenarnya tanah, pihak mana yang saat ini menguasai tanah sengketa dan dasar surat kepemilikan.

Majelis hakim  yang diketuai Sanusi pun akan melanjutkan persidangan ini di PN I A Cibinong dengan menghadirkan empat orang saksi pada Kamis (23/10) mendatang untuk mengetahui sejarah atau proses juak beli antara pihak tergugat I dengan tergugat II. (reza zurifwan/ing)
.

Loading...