Histori Rock Indonesia, Grunge dan Rombongan Bawah Tanah

Histori Rock Indonesia, Grunge dan Rombongan Bawah Tanah
Navicula, band grunge rock asal Bali. (Navicula) (Navicula/)

INILAH, Jakarta- Musik metal yang glamor mendominasi corak musik rock di sepanjang dekade 1980-an akhirnya runtuh lewat gerombolan anak-anak muda berkemeja belel dengan jeans rombeng pada 1991.

Mereka menjadi antitesa dengan musik yang bising dengan riff yang sederhana, jauh dari skill gitar paripurna ala rock heavy metal, hard rock, glam rock, dan sejumlah turunannya.

Lengkingan vokal tinggi pun diganti dengan teriakan kemarahan. Dengan nama grunge, anak-anak muda ini menjadi perwakilan gemilang dari para generasi x.

Di departemen lirik, grunge cenderung depresif dan dinilai pas dengan situasi Amerika di bawah Reagan saat itu, yang lewat kebijakan ekonomi politiknya melahirkan generasi muda yang ambigu, sinis, dan apatis.

Harlan Boer, musisi sekaligus pengarsip menyebut album "Nevermind" dari Nirvana yang dirilis pada 1991 meledak sekaligus mengancam eksistensi heavy metal yang kental dengan band-band rock era 80-an.

"Itu bisa dibilang (rock 80-an) sudah selesai. Nirvana menjadi sangat besar," kata Harlan.
 
Sejatinya, grunge adalah nama yang diciptakan media untuk rumpun dari punk yang muncul di Amerika dan Inggris dekade 70.

Bedanya grunge lebih punya eksplorasi pada sound gitar sehingga menghasilkan kebisingan yang lebih tajam dan kotor.

Taufiq Rahman dalam "Lokasi Tidak Ditemukan: Mencari Rock and Roll Sampai 15.000 Kilometer" menyebut "Nevermind" adalah pemberontakan yang sangat laku.

Kritikus musik menilainya sebagai saat yang tepat untuk punk dan memboyong banyak band-band senafas yang sebelumnya hanya bermain di kancah bawah tanah seperti Alice in Chain, Soundgarden, Stone Temple Pilot, hingga Pearl Jam.



Persaingannya dengan hair metal diulas oleh Nuran Wibisono dalam "Nice Boys Don't Write Rock n Roll: Obsesi Busuk Menulis Musik".

Menurut dia, Guns n Roses yang bersaing hebat dengan Nirvana saat itu mewakili zamannya masing-masing.

Guns n Roses tipikal pemuda 80-an yang bandel dan memberontak tetapi juga sangat gemar bersenang-senang, sementara Nirvana mewakili kemarahan dan apatisme generasi X.

Sementara di kancah lokal, ledakan grunge yang memboyong banyak referensi musisi Seattle lainnya menghadirkan semangat baru atas rock yang selama ini hanya dimainkan oleh mereka yang punya skill di atas rata-rata.


 

Lewat grunge, timbul pemahaman kalau semua bisa bermain musik. Ini menjadi cikal bakal skena independen yang berkecambah di era 90-an terutama Bandung dan Jakarta.

Sebetulnya, grunge masuk ke skena lokal bukan sebagai referensi tunggal. Di era yang sama, punk juga mulai diembuskan oleh kolektif Young Offender.

Dibentuk oleh sejumlah anak muda yang sempat mengenyam pendidikan di Amerika, Young Offender disebut sebagai komunitas punk pertama di Indonesia dan menghadirkan sejumlah band seperti Submission, Punktat, Pestol Aer, Wondergel, dan lain-lain.

Penulis "Bandung Pop Darlings", Irfan Muhammad menyebut kalau Young Offender bukan hanya melahirkan band tetapi juga menyebarkan referensi musik yang saat itu belum mudah diakses.

Lewat acara berkala bernama Black Hole, para penggawa Young Offender mengubah klab malam yang selama identik dengan disko menjadi ajang memutar musik punk, alternative rock, indie, hingga industrial.

"Kecuali metal. Young Offender itu justru hadir sebagai antitesa dari metal. Saat itu Jakarta sedang gandrung thrash dan mereka memperkanlkan kalau selain thrash adalagi musik-musik keren yaitu punk dengan segala macam turunannya," kata Irfan.

Pestol Aer, band dari kelompok Young Offender pula yang akhirnya membuat tren baru dengan membanting stir dari membawakan punk seperti Sex Pistols menjadi Britpop seperti Oasis dan The Stone Roses.
 

Loading...