Kolecer Mainan Tradisional yang Makin Langka

Kolecer Mainan Tradisional yang Makin Langka
Foto: INILAH/Zainulmukhtar

INILAH, Garut - Angin cukup kencang terjadi beberapa hari ini. Banyak warga merasa khawatir terhadap dampak buruk terhadap kesehatan maupun potensi menimbulkan bencana. Namun bagi sebagian warga, justru angin kencang dimanfaatkan sebagai ajang berkreasi menampilkan permainan tradisional kolecer.

Kolecer merupakan alat permainan tradisional masyarakat Tatar Sunda, termasuk Kabupaten Garut, yang terbuat dari bahan baku bambu atau kayu dipasang dengan batang bambu ukuran kecil hingga besar.  Panjang baling-baling pun beragam, mulai setengah meter hingga dua meter bahkan lebih.

Kolecer yang bagus yakni kolecer yang baling-balingnya berputar kencang dengan mengeluarkan suara keras saat dipasang menantang tiupan angin.

Namun permainan kolecer semakin langka. Seperti halnya permainan tradisional kaulinan barudak lembur yang kian tergerus permainan modern yang tersedia melalui perangkat elektronik atau gadget.

“Di Selaawi juga sekarang hanya sekali-kali suka terlihat ada yang masang kolecer. Mungkin kalah sama gadget,” kata Dadi (41), warga Cilimus Desa Putrajawa Kecamatan Selaawi, Selasa (22/10/2019).

Padahal Selaawi dikenal merupakan sentra aneka kerajinan bambu, termasuk kreasi baru alat musik tradisional celentung selaawi yang kian populer. Kendati tak sepopuler sebelum merebaknya gadget, sejumlah warga Desa Limbangan Timur Kecamatan Balubur Limbangan tetap bersemangat membuat kolecer berbagai ukuran, dan memasangnya di pematang sawah menghadap aliran sungai Cipancar. Kolecer berukuran kecil hingga besar tampak berjajar seakan “adu geulis” (mengadu kecantikan). Siapa paling bagus di antara kolecer berbaris tersebut.

“Sekarang, kebanyakan yang membuat kolecer orang dewasa. Beda dengan zaman dulu, setiap musim kemarau, permainan kolecer ini sangat digemari anak-anak. Pelepah bambu juga sering dijadikan kolecer kecil, memainkannya sambil berlari-lari,” kata Agus M (48) warga setempat.

Warga di Desa Cibiuk Kaler Kecamatan Cibiuk juga tak ketinggalan dengan permainan kolecer. Dua buah kolecer berukuran besar bahkan dipasang warga jauh hari sejak memasuki kemarau.

Dadi maupun Agus menyebutkan, pada masa lalu, kolecer bukan saja populer sebagai permainan tradisional masyarakat Garut melainkan masyarakat Tatar Sunda. Kolecer dimainkan anak-anak hingga orang dewasa. Musim permainan kolecer biasanya muncul di musim kemarau, atau penghujung musim kemarau ketika angin bertiup cukup kencang.

Kolecer dipasang di berbagai tempat, mulai persawahan, perkebunan hingga perbukitan. Di atas bangunan hingga pepohonan.

Di jaman serba instan seperti sekarang, di tengah dominasi gadget pada kalangan generasi muda, akankah kolecer kemudian menghilang tergerus ‘modernisasi’, seperti halnya permainan tradisional jajangkungan, oray-orayan, gatrik, lodong, papadatian, dan bebedilan. (Zainulmukhtar)

Loading...