Peredaran Minol Kembali Marak, Satpol PP Purwakarta Diduga Tak Bertaji

Peredaran Minol Kembali Marak, Satpol PP Purwakarta Diduga Tak Bertaji
net

INILAH, Purwakarta - Di Kabupaten Purwakarta, peredaran minuman beralkohol (minol) kian hari semakin memprihatinkan. Masyarakat di wilayah ini pun mulai resah dengan kembali maraknya penjual minuman memabukan tersebut.

Ironisnya, tak hanya berkedok depot jamu, para penjual minol ini mulai berkamuflase dengan bisnis lain. Misalnya, bengkel dan tempat hiburan malam.

Sayangnya, meski kondisinya sudah demikian parah namun petugas Satpol PP setempat terkesan tutup mata. Padahal, sejumlah elemen masyarakat berharap masyarakat segera bertindak tegas. Apalagi, para penjual minuman keras ini sudah mulai kembali terang-terangan.

Dicky Saputra (38) salah seorang warga di Kecamatan Purwakarta, mengaku, pihaknya turut prihatin dengan kembali maraknya para penjual minol. Padahal, beberapa tahun lalu nyaris tak ada lagi peredaran barang haram ini setelah pemerintah mengeluarkan kebijakan.

"Kami berharap, pengawasan dari pemerintah lebih diperketat lagi. Jangan sampai berbanding terbalik dengan aturan yang dulu. Di satu sisi ingin memutus mata rantai peredarannya, di sisi lain petugas penegak aturannya seperti menutup mata," ujar Dicky kepada wartawan, Rabu (23/10/2019).

Menurut sepengetahuan dirinya, selama ini ada peraturan daerah tentang K3. Mungkin, kata dia, aturan tersebut bisa menjadi acuan untuk penindakan. Dalam hal ini, pihaknya berharap MUI jiga bisa turut berperan aktif, terlebih jajaran Satpol PP yang memang merupakan petugas penegak perda.

Sebelumnya, Ketua MUI Purwakarta KH Abun Bunyamin juga sempat menyampaikan hal sama. Menurutnya, aparat harus segera bertindak tegas menyikapi kondisi tersebut. Jangan sampai dibiarkan berlarut-larut.

"Kami minta aparat segera bertindak tegas," ujar Abun.

Abun pun menyampaikan, minuman beralkohol bisa menjadi salah satu sumber dari berbagai penyakit masyarakat. Apalagi, dari sisi agama sudah jelas hukumnya. 

Menurut dia, dampak meminum minuman keras ini salah satunya bisa memicu kenakalan remaja. Bisa saja, para remaja ini setelah mabuk-mabukan, kemudian melakukan hal negatif. Misalnya, mencopet, berkelahi bahkan hingga melakukan tindak asusila. 

Untuk itu, pihaknya meminta supaya aparat terkait segera turun ke lapangan untuk menggelar operasi skala besar. Dengan mengintensifkan razia, diharapkan bisa memutus mata rantai peredaran minuman memabukan ini.

"Intinya harus ada ketegasan dari aparat," pungkasnya. (Asep Mulyana)

Loading...