Histori Rock Indonesia, Era 2000-an Banjir Musik Alternatif

Histori Rock Indonesia, Era 2000-an Banjir Musik Alternatif
Vokalis Andy Rif dan gitaris Jikun (kanan) dari band /RIF beraksi saat tampil di '90's Festival' di JIEXPO Kemayoran, Jakarta, Sabtu (10/11/2018). (ANTARA FOTO/MUHAMMAD ADIMAJA)

INILAH, Jakarta- Memasuki millenium ketiga, musik rock di Indonesia memiliki lebih banyak ragam. Selain karena warisan musik independen 1990-an yang sudah banyak menawarkan referensi baru, ragam jenis rock di ranah nasional pun berkelindan dengan gejala perkembangan musik rock di jagat internasional.

Pasca-grunge di 1990-an misalnya, Amerika Serikat menghadirkan banyak band modern rock atau rock alternatif seperti Creed, Alter Bridge, Hoobastank, Audioslave, hingga Puddle of Mudd yang lebih punya fidelitas tinggi ketimbang grunge yang cenderung dipandang "amatir".

Beberapa band ini sebetulnya sudah terbentuk sejak dekade 1990-an tetapi baru mendapat sorotan di era 2000-an. Misalnya Puddle of Mudd yang terbentuk 1991, tetapi baru mendapat rekaman profesional sepuluh tahun setelah terbentuk dan melejitkan single "Blurry" ke Billboard Top 100.

Sama seperti di Amerika, euforia Britpop yang terjadi di Inggris pada dekade 1990-an pun diteruskan karakternya meski dengan semangat yang berbeda. Inggris menghadirkan band-band yang lebih eksperimental seperti Muse, Radiohead, atau Coldplay yang lebih mudah didengar.

Kemunculan band-band seperti ini, banyak mengilhami band-band pop rock di kancah arus utama musik nasional apalagi setelah Peter Pan sukses dengan lagu "Mimpi Yang Sempurna" pada 2003.

Beberapa band lain yang bisa disebut dapat sorotan di antaranya The Cat, Tic Band, Taboo, Dr PM, Nidji, dan lain-lain. Sementara sebelum mereka, gejalanya sudah terlihat lewat band-band seperti Sheila on 7, Alv, atau jebolan kompilasi Indie Ten (1998) yaitu Cokelat, Caffeine, hingga Padi yang merilis debut albumnya di rentang 1999 sampai 2000.

Di saat yang bersamaan, jenis musik yang sebelumnya tidak identik dengan genre rock pun mulai banyak yang mengadopsi formula musik rock.

Ini cukup kentara untuk jenis musik ska dan hip hop, ska yang muncul di 1950-an mulai mendapat pengaruh dari punk dan hardcore sejak 1990-an hingga disebut sebagai gerakan gelombang ketiga dari musik ini.

Penulis buku "Bandung Pop Darlings", Irfan Muhammad mengatakan di ranah lokal, fenomenanya sudah terasa sejak musik independen marak.

Tetapi semakin mudah diakses ketika gelombang band-band ska-punk seperti Tipe-X, Noin Bullet, Purpose, Jun Fan Gang Foo yang sebelumnya underground mengikat kontrak dengan label rekaman besar. Itu terjadi di rentang tahun 1999 hingga paruh pertama dekade 2000.

Sementara itu hip metal yang di luar diwakili oleh band-band semacam Limp Bizkit, Linkin Park, Korn, P.O.D, atau Rage Against The Machine, di kancah lokal diadopsi oleh band-band seperti Kripik Peudeus, 7 Kurcaci, Scope, Saint Loco, dan lain-lain.

Ikut band luar

Irfan menuturkan di era ini banyak sekali band-band lokal yang secara plek-plekan terinspirasi dari band luar dan tanda tangan kontrak dengan label mayor.

Selain 7 Kurcaci yang cukup serupa dengan Korn ada juga misalnya Funky Kopral yang terlihat banyak mengambil pengaruh dari Red Hot Chilli Peppers atau band Gallery, pesohor Cindy Fatikasari yang hampir menyerupai No Doubt.

"Enggak cuma band dari Barat tapi juga band-band dari Jepang. J-Rocks misalnya sangat ketahuan kalau terinspirasi L'arc en Ciel. Jika sebelumnya musik yang tak biasa ini hanya muncul di panggung underground, memasuki millenium baru, band-band ini masif menghadirkan tawaran musik baru di arus utama," kata Irfan.

Di sisi lain band-band rock yang telah dulu ada mampu membuat kejutan yang lebih segar di era ini. Jamrud misalnya, merilis "Ningrat" (2000), Slank dengan "Virus" (2001), dan Dewa yang kembali setelah Ari Lasso hengkang dengan "Bintang Lima" (2000).

"Ada juga Edane, band lama yang kemudian mendapat pendengar baru lewat single "Kau Pikir Kaulah Segalanya" atau pecahan Slank Bongky, Indra Q, dan Pay yang membentuk BIP dengan single "1000 Puisi" pada 2001. Kalau boleh dibilang meski tidak besar gaungnya, tapi khazanah rock di era ini lebih beragam. Mau tidak mau entah kenapa orang bisa dengar dan diam-diam hapal lagunya," ucap dia.

Perhatian publik pada rilisan-rilisan ini terbilang cukup baik. Dalam "Rock N Roll Industri Musik Indonesia: Dari Analog ke Digital", Theodore KS menulis Jamrud bisa menjual "Ningrat" sebanyak dua juta keping hingga diganjar 10 Platinum dari Logiss Records.

Hal yang sama juga dirasakan oleh Dewa dengan "Bintang Lima" atau pendatang baru saat itu, Sheila on 7 yang menjual debutnya hingga satu juta kopi.

Loading...