100 Hari Kerja, Azis Tak Ingin Lihat Sampah

100 Hari Kerja, Azis Tak Ingin Lihat Sampah
INILAH, Cirebon – Pascadilantik, Wali Kota Cirebon Nashrudin Azis menghendaki kotanya bebas dari sampah. Otorita terkait mengajukan tiga model penanganannya.
 
Bebas sampah menjadi salah satu instruksi utama Azis selama melaksanakan program kerja 100 hari dalam pemerintahannya bersama Wakil Wali Kota Cirebon Eti Herawati. Bersih, Hijau, dan Tertib, menjadi misi pasangan kepala daerah yang dilantik pada 12 Desember lalu ini.
 
Kebersihan, dalam pandangan Azis, menjadi modal utama untuk membuat Kota Cirebon unggul di bidang jasa. Pemerintah Kota (Pemkot) Cirebon dalam hal ini membidik sektor jasa sebagai prioritas upaya mereka meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD).
 
"Kota Cirebon tak dapat meningkatkan PAD dari sektor lain, kecuali bidang jasa," kata Azis, Senin (17/12/2018).
 
Karena itu, pihaknya menghendaki Kota Cirebon sebagai kota pariwisata. Dia pun menekankan pentingnya kebersihan lingkungan di kota udang.
 
Dia menginstruksikan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Cirebon segera mengambil langkah pengelolaan sampah. Ruas jalan protokol hingga jalan menuju kawasan pemukiman penduduk, harus bersih dari sampah.
 
"Semua harus bebas sampah," tegas mantan Wakil Wali Kota Cirebon ini.
 
Selama pelaksanaan program kerja 100 hari, tingkat keberhasilan ketiga hal prioritas tadi (bersih, hijau, dan tertib) sudah harus di atas 50%. Salah satu upaya yang ditekankan Azis kepada DLH berupa pentingnya jam ambil dan buang sampah di setiap tempat pembuangan sementara (TPS) maupun tempat pembuangan akhir (TPA).
 
Selain sampah, Azis juga meminta penegasan tupoksi pemeliharaan taman antara Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) dengan DLH. Tujuannya agar taman se-Kota Cirebon terpelihara baik maupun sedap dipandang.
 
Lebih jauh, dia meminta koordinasi antar instansi teknis di Kota Cirebon berjalan baik. Dia menggarisbawahi komunikasi dua arah antara pimpinan dan jajaran di bawahnya.
 
Sementara, Wakil Wali Kota Cirebon, Eti Herawati meminta setiap instansi pemerintahan menanam pohon di halaman kantornya masing-masing. Pohon yang ditanam harus menampilkan kesan indah dan hijau.
 
"Saya juga minta tugu selamat datang serta empat pintu gerbang menuju Kota Cirebon diperindah," pinta Eti.
 
Kepala DLH Kota Cirebon RM Abdullah Syukur berjanji untuk memprioritaskan kebersihan ruas jalan protokol serta sejumlah jalan kecil yang berpotongan dengan jalan protokol. Khusus penanganan sampah, ada tiga model penanganan yang akan dilakukan pihaknya.
 
"Adanya TPS terpilah di kawasan Krucuk, Kota Cirebon, TPS mobile sebagai pengganti TPS Kesambi yang akan ditutup, serta program recycle sampah di TPA," bebernya.
 
Dia mengatakan, sampah yang sudah berumur sepuluh tahun akan diambil untuk diayak. Residu sampah yang sudah lapuk itu selanjutnya dapat dijadikan briket untuk bahan bakar.
 
Sampah berusia lama pun, sambung Syukur, bisa diberi enzim tertentu, didiamkan tujuh hari, untuk selanjutnya dibakar dan difermentasi menjadi gas. Gas tersebut bisa langsung diarahkan ke generator untuk menjadi penerangan.
 
"Metode ini sudah dilakukan di Bandung dan kami ingin menerapkannya di Kota Cirebon," cetusnya.
 
Khusus taman, pihaknya merencanakan pembuatan taman tematik. Sejauh ini, sudah ada 17 perusahaan yang bersedia mengelolanya melalui kesepakatan tertulis dengan Pemkot Cirebon.