Belajar dari Ketawadhuan Rasulullah

Belajar dari Ketawadhuan Rasulullah
Ilustrasi/Net

Rasulullah saw adalah manusia yang paling mulia akhlaknya. Tidak ada yang menandingi ketinggian akhlak beliau. Siti Aisyah menerangkan bahwa akhlak Rasulullah adalah al-Quran.  Dengan kemuliaan akhlaknya inilah, Islam bisa tumbuh dan berkembang demikian pesat dan damai, meskipun pada perjalanannya banyak sekali orang-orang yang menentang dengan penentangan yang sangat besar. 

Salah satu sifat mulia Rasulullah adalah ketawadhuannya. Meskipun kedudukan beliau sangatlah tinggi dan agung, namun sama sekali tidak tampak ciri kemegahan dunia pada dirinya. Beliau senantiasa berada dalam kesederhanaan hidup. Meski kedudukan beliau setara bahkan melebihi dari raja-raja Persia dan Romawi, namun beliau adalah sosok yang sangat dekat dengan orang-orang di sekitarnya. Padahal di saat yang sama, raja-raja Persia dan Romawi sangat menjaga jarak dengan rakyatnya. 

Inilah Rasulullah, sosok agung yang pernah membuat orang seperti Umar bin Khaththab menangis ketika melihat beliau. Suatu ketika Umar melihat Rasulullah, sang uswatun hasanah, penutup para nabi dan rasul, tidur hanya beralaskan tikar yang kasar. Sampai-sampai anyaman tikar itu meninggalkan bekas di punggung dan bahu Rasulullah. 

Rasulullah bertanya kepada Umar, “Mengapa engkau menangis wahai Umar?” 

Umar pun menjawab, “Bagaimana mungkin aku tidak menangis, Kisra dan Kaisar duduk di atas singgasana yang bertatahkan emas. Sementara tikar ini telah meninggalkan bekas di tubuhmu wahai Rasulullah. Padahal engkau adalah kekasih Allah!” 

Lantas Rasulullah pun menghibur Umar dengan bersabda, “Mereka adalah kaum yang kesenangannya disegerakan di dunia, dan tak akan lama lagi sirna. Tidakkah engkau rela mereka memiliki dunia sementara kita memiliki akhirat?! Kita adalah kaum yang menangguhkan kesenangan kita untuk hari akhir. Perumpamaan hubunganku dengan dunia adalah seperti orang yang bepergian di bawah terik panas matahari. Dia berlindung sejenak di bawah pohon, kemudian pergi meninggalkannya.” (HR. Tirmidzi)

Bukan tidak bisa Rasulullah saw berpenampilan seperti raja-raja Persia dan Romawi. Mudah saja bagi Rasulullah jika memang menginginkannya. Tetapi, beliau tidak memilih kemegahan dunia itu. Beliau memilih hidup sederhana dengan segenap kerendahan hatinya. 

Jangankan menginginkan singgasana semegah milik para raja Persia dan Romawi, bahkan pakaian dan alas kaki pun Rasulullah menjahit dan memperbaikinya sendiri jika ada kerusakan seperti robek. Suatu ketika Aisyah pernah ditanya tentang apa yang dilakukan Rasulullah saat berada di rumah. Aisyah menerangkan, “Beliau menjahit pakaiannya sendiri, memperbaiki sandalnya, dan mengerjakan segala apa yang (layaknya) para suami lakukan di rumah.” (HR. Ahmad)

Masya Allah! Sungguh, semakin kita mengingat-ingat kembali kehidupan baginda Rasulullah saw, maka akan semakin rindu dan cinta kita kepadanya. Kerinduan yang mengharu biru karena betapa semakin sulit kita temukan pemimpin umat yang memiliki ketawadhuan sedemikian rupa. 

Sebagai pemimpin, Rasulullah hidup bersahaja, tidak mempersulit orang lain yang ingin bertemu dengan beliau. Rumahnya terbuka bagi siapa saja yang ingin bertamu. Waktunya terbuka bagi siapa saja yang ingin berjumpa. Tidak melihat apakah orang yang datang itu pejabat tinggi atau rakyat jelata, orang kaya atau orang tak punya, dewasa atau anak-anak. 

Dalam sebuah kisah yang diriwayatakan oleh Anas bin Malik, disebutkan di Madinah ada seorang anak bernama Abu Umair. Anak ini memiliki binatang peliharaan yang sangat ia sayangi, yaitu seekor burung pipit kecil. Ia senang sekali bermain dengan burung peliharaannya itu. Namun sayang, suatu hari burung itu mati, Abu Umair pun sangat bersedih hati. 

Kemudian, Rasulullah datang kepada Ummu Sulaim, ibunda dari Abu Umair, dan bermaksud menghibur anak tersebut. Pada hari-hari yang lain Rasulullah memang kerap kali menghibur anak ini. 

Rasulullah sempat bertanya kepada orang-orang, “Mengapa aku melihat Abu Umair bersedih?” Mereka pun menjawab, “Nughrun (nama burung peliharaan Abu Umair) yang biasa bermain dengannya telah mati.”

Lalu, Rasulullah menghampiri Abu Umair dan bermaksud menghiburnya. Rasulullah bertanya kepadanya, “Abu Umair, burung kecilmu sedang apa?” (HR. Bukhari)

Kerendahan hati Rasulullah pun terlihat pada ketidaksukaannya manakala para sahabat berdiri untuk menyambut kedatangan beliau. Beliau tidak berkenan diperlakukan layaknya para raja. Rasulullah adalah pemimpin umat yang tidak pilih-pilih memenuhi undangan. Dari siapa pun undangan datang, dari tokoh masyarakat maupun dari orang yang biasa saja, maka beliau mendatanginya. Rasulullah bersabda, “Kalau aku diundang atau diajak makan kaki kambing, maka aku datang. Dan, jika dihadiahkan kepadaku kaki kambing, maka aku terima.” (HR. Bukhari)

Rasulullah juga tidak berkenan dipanggil dengan sebutan-sebutan yang berlebihan sebagaimana para raja disebut atau digelari. Anas bin Malik berkata, “Ada beberapa orang memanggil Rasulullah saw dengan panggilan, ‘Wahai Rasulullah, wahai orang yang terbaik dan anak orang yang terbaik di antara kami, wahai junjungan kami dan anak dari junjungan kami.’” 

Rasulullah tampak kurang berkenan kemudian bersabda, "Wahai sekalian manusia, katakanlah sewajarnya saja! Jangan sampai kamu digelincirkan setan. Aku adalah Muhammad hamba Allah dan rasul-Nya. Aku tidak sudi kalian angkat di atas kedudukan yang dianugerahkan Allah Subhannahu wa Ta'ala kepadaku." (HR. An Nasai)

Pernah juga ada sebagian orang yang meyakini Rasulullah memiliki kemampuan mengetahui ilmu gaib, punya kemampuan untuk mendatangkan manfaat, menjatuhkan mudharat, mengabulkan segala permintaan, menyembuhkan segala penyakit, dan berbagai penilaian berlebihan lainnya. 

Mengetahui hal ini, Rasulullah saw pun menyampaikan firman Allah SWT, “Katakanlah: ‘Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang gaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman.’" (QS. al-A’raf [7]: 188)

Rasulullah sangat memahami orang-orang yang memberikan berbagai sebutan itu bermaksud menghormatinya, tetapi beliau menolak sesuatu yang melampaui batas. Rasulullah juga menguatkan hal ini dengan bersabda, “Janganlah kalian menjunjung aku seperti halnya orang-orang Nashrani mengultuskan Isa bin Maryam. Aku hanyalah seorang hamba. Maka, katakanlah bahwa aku adalah hamba Allah dan utusan-Nya.” (HR. Abu Daud)

Saudaraku, sungguh agung pribadi Rasulullah saw. Beliau yang memiliki derajat sedemikian tinggi di hadapan Allah SWT, dijadikan oleh Allah sebagai kekasih-Nya, penyempurna risalah Islam di dunia, tetapi memiliki ketawadhuan yang begitu dalam dan indah. Allahummashalli ‘alaa Muhammad! (KH Abdullah Gymnastiar)

Loading...